Hadits al-Ghadir Bukti Kepemimpinan Imam Ali as

Hadits al-Ghadir Bukti Kepemimpinan Imam Ali asBerikut ini adalah kajian Hadits al-Ghadir, yaitu hadis yang membuktikan keshahihan kepemimpinan atau wilayah Imam Ali as. Merupakan bukti kebenaran yang nyata bahwa Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya, yang sudah pasti menjadi Hujjah keshahihan Hadis Ghadir Khum.

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya.

Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون انى أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له انى سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك له

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

عن سعيد بن وهب قال قال علي في الرحبة أنشد بالله من سمع رسول الله يوم غدير خم يقول إن الله ورسوله ولي المؤمنين ومن كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه وأنصر من نصره

Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].

Dan perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم فان أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني الصدق أمانة والكذب خيانة والضعيف فيكم قوي عندي حتى أرجع عليه حقه إن شاء الله والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا خذلهم الله بالذل ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله ورسوله فاذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].

Terakhir kami akan menanggapi syubhat paling lemah soal hadis Ghadir Khum yaitu takwilan kalau hadis ini diucapkan untuk meredakan orang-orang yang merendahkan atau tidak suka kepada Imam Ali perihal pembagian rampasan di Yaman. Silakan perhatikan hadis Ghadir Khum yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada banyak orang, tidak ada di sana disebutkan perihal orang-orang yang merendahkan atau mencaci Imam Ali. Kalau memang hadis ghadir khum diucapkan Rasulullah SAW untuk menepis cacian orang-orang terhadap Imam Ali maka Rasulullah SAW pasti akan menjelaskan duduk perkara rampasan di Yaman itu, atau menunjukkan kecaman Beliau kepada mereka yang mencaci Ali. Tetapi kenyataannya dalam lafaz hadis Ghadir Khum tidak ada yang seperti itu, yang ada malah Rasulullah meninggalkan wasiat bahwa seolah Beliau SAW akan dipanggil ke rahmatullah, wasiat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali dan berpegang teguh pada Al Qur’an dan ithrati Ahlul Bait. Sungguh betapa jauhnya lafaz hadis tersebut dari syubhat para pengingkar.

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثين إلى اليمن على أحدهما علي بن أبي طالب وعلى الآخر خالد بن الوليد فقال إذا التقيتم فعلي على الناس وان افترقتما فكل واحد منكما على جنده قال فلقينا بنى زيد من أهل اليمن فاقتتلنا فظهر المسلمون على المشركين فقتلنا المقاتلة وسبينا الذرية فاصطفى علي امرأة من السبي لنفسه قال بريدة فكتب معي خالد بن الوليد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم يخبره بذلك فلما أتيت النبي صلى الله عليه و سلم دفعت الكتاب فقرئ عليه فرأيت الغضب في وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله هذا مكان العائذ بعثتني مع رجل وأمرتني ان أطيعه ففعلت ما أرسلت به فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقع في علي فإنه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي وانه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

Syaikh Al Albani berkata dalam Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah no 1187 menyatakan bahwa sanad hadis ini jayyid, ia berkata

أخرجه أحمد من طريق أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة وإسناده جيد رجاله ثقات رجال الشيخين غير أجلح وهو ابن عبد الله بن جحيفة الكندي وهو شيعي صدوق

Dikeluarkan Ahmad dengan jalan Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah dengan sanad yang jayyid (baik) para perawinya terpercaya, perawi Bukhari dan Muslim kecuali Ajlah dan dia adalah Ibnu Abdullah bin Hujayyah Al Kindi dan dia seorang syiah yang (shaduq) jujur.

Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Salam Damai

Dialog mengenai Hadis kepemimpinan Imam Ali as:

Alim Suni: “Orang-orang Syiah sering kali menjadikan hadits Ghadir sebagai dalil wilayah dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Padahal meskipun memang hadits itu shahih, belum tentu yang dimaksud hadits tersebut adalah diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai imam.”

Penulis Syiah: “Apakah anda siap kita berdebat tentang masalah ini?”

Alim Suni: “Ya, aku siap. Silahkan anda jelaskan hadits Ghadir yang akan kita bahas ini.”

Penulis Syiah: “Hadits Ghadir adalah hadits mutawatir yang ditukil oleh 110 sahabat, 84 tabi’in, dan juga ulama serta ahli hadits di abad-abad setelahnya hingga saat ini.

Secara singkat, hadits itu begini: Rasulullah saw memberi izin umat Islam untuk melaksanakan haji pada tahun ke-10 Hijriah, dan paling tidak 90 ribu orang menunaikan ibadah itu bersamanya. Seusai ibadah tersebut, saat mereka kembali dari Makkah menuju Madinah, tibalah rombongan di suatu lembah yang bernama Ghadir Khum. Hari itu kamis, tanggal 8 Dzul Hijjah. Malaikat Jibril turun dari sisi Tuhan kepada nabi dan menyampaikan ayat suci:

“Wahai utusan Allah, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu.” (QS. Al Ma’idah: 67)

Dengan segera Rasulullah saw memerintahkan para rombongan yang berjalan di depan beliau untuk kembali dan menanti para rombongan yang di belakang agar berkumpul. Tak lama kemudian beliau memimpin shalat dhuhur berjama’ah.

Setelah itu beliau berdiri untuk berkhutbah, di atas mimbar yang dibuat dari tumpukan pelana-pelana onta. Seusai membaca pujian kepada Tuhan, beliau mengingatkan kembali para hadirin akan tauhid, kenabian, hari kiamat, lalu berwasiat tentang “Tsaqalain” (dua peninggalan berharga, Al Qur’an dan Ahlul Bait), menjelaskan bahwa Rasulullah saw lebih utama dari pada diri orang-orang yang beriman, lalu beliau mengangkat tangan Imam Ali as hingga diriwayatkan sampai ketiak mereka berdua terlihat. Lalu beliau berkata: “Barang siapa menjadikanku wali, maka Ali-lah walinya.” Beliau mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mendoakan para pecintanya (pecinta Ali bin Abi Thalib) dan melaknat para pembencinya. Lalu beliau meminta agar yang hadir menyampaikan kabar ini kepada yang tidak hadir. Setelah itu Jibril turun kembali dan membawakan ayat suci:

“Hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha akan Islam sebagai agama.” (QS. Al Ma’idah: 3)

Seusai membacakan ayat tersebut Rasulullah saw bersabda: “Allahu Akbar (maha besar Allah) atas disempurnakannya agama, disempurnakannya nikmat, dan ridhanya Allah atas risalahku dan wilayah Ali bin Abi Thalib setelahku.”

Lalu semua orang saling mengucapkan selamat kepada Imam Ali as yang di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka menjabat tangan Imam Ali as sambil berkata: “Selamat bagimu wahai Ali bin Abi Thalib. Engkau telah menjadi maula (pemimpin) bagiku dan bagi semua orang yang beriman.”

Demikianlah hadits Ghadir.”

Alim Suni tersenyum sambil berkata: “Bagus sekali. Namun ini hanya permulaian dan kita belum membahas apapun.”

Penulis Syiah: “Silahkan utarakan kritikan anda lalu kita bahas bersama.”

Alim Suni: “Bagaimanakah kalian mengartikan kata “maula” dalam hadits Ghadir itu?”

Penulis Syiah: “Artinya adalah orang yang memiliki wewenang dalam perkara umat, penganyom dan orang yang menghakimi.”

Alim Suni: “Kalau begitu jelas kamu tidak tahu arti kata-kata dalam bahasa Arab. Lebih baik kamu merujuk kepada kitab-kitab bahasa agar kamu tahu apa arti kata “maula” itu. Setelah itu baru kita lanjutkan pembahasan ini.”

Penulis Syiah: “Kalau begitu kamu saja yang jelaskan arti kata “maula” agar aku bisa belajar darimu.”

Alim Suni: “Bagus. Sekarang kamu telah datang ke jalan yang benar.

Ketahuilah, bahwa “maula” memiliki banyak arti, seperti: Tuhan, paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, hamba, raja, orang yang diberi nikmat, kawan, pengganti, sahabat yang menyertai, tetangga, tamu, orang dekat, penolong, pecinta dan masih banyak lagi.”

Penulis Syiah: “Jika kita melihat kondisi dan suasana yang ada saat nabi mengucapkan hadits itu, kita pasti bisa menyimpulkan sendiri bahwa maksud nabi berkata “maula” bukanlah “maula” yang memiliki arti bermacam-macam dan tidak jelas seperti yang anda katakan.

Misalnya, tidak mungkin yang dimaksud “maula” adalah arti “Tuhan”, karena itu pasti syirik, dan tidak mungkin nabi menyebut Ali bin Abi Thalib as sebagai Tuhan. Kata “maula” juga tidak mungkin berarti paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, budak, raja, yang diberi nikmat, kawan, dan seterusnya, karena jelas Ali bin Abi Thalib bukan itu. Yakni Ali bukan paman nabi, bukan anak nabi, bukan anak saudari nabi, dan seterusnya.

Adapun jika kamu menganggap “maula” berarti kawan, tetangga, orang dekat, atau tamu, itu juga tidak benar; karena tidak mungkin nabi dengan begitu heboh dan seriusnya mengumpulkan sekian banyak jamaah haji di gurun tandus yang panas hanya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sahabat beliau, itu saja; jelas tidak mungkin. Atau hanya karena beliau ingin menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangganya; jelas mustahil dan tidak masuk akal. Mana mungkin dalam keadaan seperti itu beliau hanya menjelaskan sesuatu yang tidak penting dan tak berarti?

Dengan melihat kondisi dan suasana saat beliau menyampaikan hadits tersebut tidak mungkin kata “maula” diartikan selain sebagai “orang yang berhak dan berwewenang dalam memimpin umat Islam”.

Dengan melihat urutan kata-kata nabi dalam pembicaraannya juga masalah ini dapat menjadi jelas. Sebelumnya nabi mengatakan “Apakah aku lebih utama dari pada diri kalian?”, yang mana kata utama itu beliau jelaskan dengan kata “auwla” yang masih satu akar dengan “maula”. Dengan demikian ketika nabi berkata “Ali adalah maula” yang dapat kita artikan adalah “Ali lebih mulia dari diri kalian bagaikan aku (nabi) lebih mulia dari kalian semua”. Yakni nabi ingin meninggikan kedudukan nabi di hadapan umat Islam setinggi kedudukan beliau, yang artinya tak lain adalah Ali bin Abi Thalib as merupakan orang yang berkedudukan sama seperti nabi sepeninggal beliau (pengganti bagi beliau).

Jibril menurunkan ayat tersempurnakannya agama setelah nabi mengumumkan pengumuman itu. Apakah masuk akal kesempurnaan agama tersebut hanya dikarenakan nabi mengumumkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangga atau sahabat biasa bagi beliau? Jelas tidak. Kesempurnaan agama, suatu hal yang sangat penting, pasti dikarenakan hal yang sangat penting pula, yaitu wilayah Ali bin Abi Thalib as sebagai seorang Imam dan pengganti nabi.”

Alim Suni: “Aku tetap masih punya pertanyaan yang terus membuatku tidak tenang.”

Penulis Syiah: “Maka tanyakanlah.”

Alim Suni: “Jika memang hadits tersebut adalah hadits yang sangat penting dan dasar kekhalifahan setelah nabi, lalu mengapa para sahabat dan sekian banyak umat nabi sepeninggal beliau tidak menjalankan hadits itu?”

Penulis Syiah: “Bukan hal yang anek, silahkan anda merujuk sejarah para sahabat, anda akan banyak menemukan betapa sering para sahabat berbuat bertentangan dengan perintah-perintah nabi, dan kebanyakan masalah-masalah politik. Mengabaikan hadits Ghadir adalah salah satu contohnya. Selain itu ada fakta sejarah lainnya yang serupa seperti para sahabat tak mau bergabung dengan pasukan Usamah, pertentangan sebagian sahabat terhadap nabi mengenai perdamaian Hudaibiah, dan lain sebagainya. Allamah Syarfuddin Musawi dalam kitabnya An Nash wal Ijtihad telah menyebutkan lebih dari 70 pertentangan para sahabat terhadap nabi.

Justru yang kami tidak habis pikir adalah mengapa kalian, orang-orang Ahlu Sunah begitu menganggap para sahabat suci dari kesalahan? Seakan mereka sama sekali tidak pernah sedikit pun bertentangan dengan Al Qur’an dan sunah nabi.”[1]
=====
referensi:
[1] Dialog Ilmiah, Sayid Ali Husaini Qumi, jilid 2, halaman 156.

Pos ini dipublikasikan di Analisis Hadis, Analisis Sejarah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s