Jawaban Untuk saudara Jafar mengenai Ahlul Bait

Oleh: J. al-Gar (secondprince)
Tulisan saya kali ini adalah tanggapan khusus terhadap tulisan saudara Ja’far yang berjudul Siapakah Ahlul Bait Nabi SAW?(kritik terhadap Syiah) silahkan buka diblog beliau: http://jafarshodiqalpalembani.wordpress.com/2007/08/27/siapakah-ahlul-bait-nabi-saw-kritik-terhadap-syiah/, tanggapan untuk tulisan ini saya bagi menjadi 4 tulisan. Kesimpulan dari Tulisan Beliau itu adalah Ahlul Bait Nabi SAW tidak terbatas pada keturunan Sayyidah Fatimah Az Zahra as saja. Tanggapan saya adalah apa yang dinyatakan Beliau itu adalah keliru. Berikut adalah pembahasan saya

Kemuliaan Ahlul Bait as adalah hal yang memiliki landasan kukuh dalam Al Quran dan Al Hadis. Al Quranul Karim telah memuliakan Ahlul Bait as secara khusus dalam surah Al Ahzab ayat 33. Sedangkan Hadis Tsaqalain adalah hadis utama yang menunjukkan keutamaan Ahlul Bait as yang menjadi pegangan dan pedoman bagi Umat Islam selain Al Quran. Jadi penting sekali untuk mengetahui siapakah Ahlul Bait as yang dimaksud.

Ahlul Bait dalam Hadis Tsaqalain
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).
Kebanyakan hadis Tsaqalain tidak menjelaskan dengan rinci siapakah Ahlul Bait as yang dimaksud, tetapi ada beberapa riwayat yang mengandung penjelasan tentang siapa Ahlul Bait as dalam hadis Tsaqalain. Mari kita lihat

Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali
Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata” Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW.

Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya. Lalu Zaid berkata” pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.

Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.” Lalu Husain bertanya kepada Zaid” Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbes”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya.

Dalam Shahih Muslim di bab yang sama Fadhail Ali ,Muslim juga meriwayatkan hadis Tsaqalain yang lain dari Zaid bin Arqam dengan tambahan percakapan yang menyatakan bahwa Istri-istri Nabi tidak termasuk Ahlul Bait, berikut kutipannya
“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? .Kemudian Zaid menjawab” Tidak, Demi Allah ,seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

Dari kedua hadis ini kita dapati pernyataan Zaid bin Arqam ra tentang siapa Ahlul Bait yang dibicarakan oleh Nabi dalam khotbah Beliau SAW.

• Hadis pertama Zaid berkata “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”.
• Hadis kedua Zaid berkata ”Tidak, Demi Allah ,seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

Kedua hadis ini tampak kontradiktif tetapi sebenarnya bisa dipahami dengan menggabungkan kedua riwayat hadis tersebut. Dengan menggabungkan kedua hadis ini maka akan kita dapati bahwa maksud sebenarnya Zaid ra adalah Istri-istri Nabi termasuk dalam keumuman lafal Ahlul Bait tetapi Ahlul Bait yang dibicarakan oleh Rasulullah SAW di Ghadir Kum ini adalah Keturunan Beliau SAW yang diharamkan menerima sedekah jadi bukan istri-istri Nabi SAW. Oleh karena itu penggunaan kata tetapi atau namun dalam hadis pertama itu menjadi tepat, seolah-olah yang ingin dikatakan Zaid ra itu adalah ”Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait(disini) adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW” . Menurut Zaid mereka yang diharamkan menerima sedekah ini adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas.

Penulis, saudara Ja’far hanya mengutip hadis pertama di atas tetapi tidak memperhatikan hadis kedua, dan langsung menarik kesimpulan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud. Kemudian dia membawakan hadis

Dari Anas r.a, ia berkata : “Nabi SAW melangsungkan pernikahan dengan Zainab binti Jahsy dengan hidangan roti dan daging maka saya mengirim makanan. Lalu Nabi SAW keluar dan menuju kamar Aisyah seraya berkata, ‘Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu)’ Maka Aisyah menjawab, ‘Wa alaika salam wa rahmatullah (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). ‘Lalu Nabi SAW mengitari kamar semua istrinya dan berkata kepada mereka seperti yang dikatakan kepada Aisyah, dan merekapun menjawab seperti jawaban Aisyah” (H.R.Shahih Bukhari)

Mengomentari hadis ini Beliau saudara Ja’far berkata

”Hadis ini sangat jelas mengatakan bahwa istri-istri Nabi SAW juga termasuk ahlul bait”.

Maka jawab saya adalah hadis ini memang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah termasuk dalam keumuman lafal Ahlul Bait. Tetapi tidak bisa langsung dikatakan begitu saja bahwa Istri-Istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam Hadis Tsaqalain dan Al Ahzab ayat 33. Lihat saja hadis yang dibawakannya itu tidak berkaitan sedikitpun dengan khotbah Rasulullah SAW di Ghadir Kum dan peristiwa penyelimutan oleh Rasulullah SAW yang berkaitan dengan surah Al Ahzab 33.

Seandainya kita menerima pernyataan Zaid bin Arqam ra dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim maka akan kita dapati bahwa Istri-istri Nabi SAW bukanlah Ahlul Bait yang dibicarakan Rasulullah SAW di Ghadir Kum, dan seandainya kita berpendapat bahwa itu hanya pernyataan Zaid ra semata sehingga tidak menjadi hujjah maka tidak ada dalil bagi kita untuk menyatakan bahwa Istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dibicarakan Rasulullah SAW di Ghadir Kum. Jadi dalam hal ini pendapat yang menyatakan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain adalah kurang tepat.

Lalu Siapakah Ahlul Bait as dalam Hadis Tsaqalain? Apakah seperti yang dikatakan sahabat Nabi SAW Zaid bin Arqam ra, yaitu Keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas. Dalam hal ini perlu diperhatikan pandangan Syiah yang menyatakan bahwa Ahlul Bait dalam hadis Tsaqalain sama dengan Ahlul bait dalam Ayat Tathir Al Ahzab ayat 33. Hal ini karena Al Ahzab 33 menetapkan kesucian Ahlul Bait dari dosa dan kesalahan yang sejalan dengan penetapan hadis Tsaqalain bahwa Ahlul Bait adalah pedoman atau pegangan Umat Islam agar tidak tersesat.
Sedangkan Ahlul Bait as dalam ayat Al Ahzab 33 berdasarkan dalil yang shahih di sisi Sunni merujuk kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az Zahra as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan merujuk kepada istri-istri Nabi SAW.(penjelasan hal ini akan saya tunjukkan pada pembahasan berikutnya).

Ahlul Bait Dalam al-Quran Surat Al Ahzab 33

Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 33 terdapat ayat tentang keutamaan Ahlul Bait as, Ayat yang lebih dikenal dengan nama Ayat Tathir. Ayat tersebut berbunyi

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33).
Sesungguhnya Allah Berkehendak Menghilangkan Dosa Dari Kamu Wahai Ahlul Bait Dan Menyucikan Kamu Sesuci-sucinya.

Ayat ini adalah potongan atau penggalan dari Al Ahzab ayat 33. Terjadi cukup banyak perbedaan pendapat seputar penafsiran ayat ini. Perbedaan itu meliputi dua hal yaitu

• Siapa Ahlul Bait dalam Ayat ini
• Apa maksud ayat ini atau Penafsiran Ayat ini.

Saudara Ja’far dalam tulisannya berkata

Syi’ah berpendapat bahwasanya Ahlul bayt Nabi SAW sesuai dengan Asbabun Nuzul ayat di atas adalah terkhusus kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husein -semoga Allah meridhoi mereka-.

Menurut saya pernyataan bahwa Ahlul Bait dalam Ayat Tathir terkhusus kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as jelas memiliki dasar dan dalil yang kuat di sisi Sunni.
Dalil yang saya maksud adalah terdapat hadis-hadis yang shahih yang menjelaskan bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Dalil ini yang ditolak oleh saudara Ja’far dalam tulisannya.
Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.

• Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
• Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.

Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut.

Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.

Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.

Ayat Tathir ternyata memiliki dalil shahih tentang Asbabun Nuzulnya dan ternyata berdasarkan Asbabun Nuzulnya Ayat Tathir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as,Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Terdapat hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Siti Fathimah,Hasan dan Husain,lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871).

Saudara Ja’far dengan mudahnya mengabaikan hadis ini seraya berkata

”Tapi menurut Tirmidzi, hadis ini gharib”.

Jawab saya: Memang benar Tirmidzi berkata hadis ini gharib tetapi perkataan ini jelas tidak menunjukkan bahwa hadis ini dhaif. Pernyataan gharib Tirmidzi dari segi sanad menunjukkan bahwa hadis tersebut bersumber dari satu perawi dan tidak ada jalan lain(ini menurut Tirmidzi, karena ada banyak jalan lain dari hadis ini dalam kitab-kitab hadis yang lain).

Pernyataan gharib ini jelas tidak berarti hadis tersebut dhaif. Hadis ini jelas bersanad shahih. Hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dan 3781. Selain itu hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy. Jelas sekali penulis(saudara Ja’far) keliru dalam menilai hadis tersebut.

Selain itu penulis juga terburu-buru dalam masalah ini sehingga mengabaikan hadis lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi Kitab Al Manaqib dimana beliau justru menyatakan hadis itu shahih.

Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menutupi Hasan,Husain, Ali dan Fathimah dengan Kisa dan menyatakan, “wahai Allah ,mereka adalah Ahlul BaitKu dan yang terpilih .Hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka”. Ummu Salamah berkata “aku bertanya kepada Rasulullah SAW ,wahai Rasulullah SAW ,apakah aku termasuk di dalamnya? Beliau menjawab “engkau berada dalam kebaikan (tetapi tidak termasuk golongan mereka)”.

At Turmudzi menulis di bawah hadis ini ,”Hadis ini shahih dan bersanad baik ,serta hadis terbaik yang pernah dikutip mengenai hal ini”. Dari sini dapat diketahui ternyata penulis(saudara Ja’far) juga keliru ketika berkata

”Mungkin inilah yang menyebabkan tirmidzi mengatakan hadis tsb gharib yaitu karena ada tambahan kata-kata tersebut”.

Buktinya hadis di atas tetap dikatakan shahih meski terdapat kata-kata Ummu Salamah, ini jelas memperkuat pernyataan saya sebelumnya bahwa gharib yang dimaksud adalah gharib dari segi sanadnya.

Tidak hanya hadis riwayat Tirmidzi bahkan dalam hadis riwayat Ibnu Jarir dalam Tafsir Ath Thabari saudara Ja’far juga terburu-buru mendhaifkan hanya berdasarkan pendapat Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah. Saudara Ja’far menuliskan

Dalam ath-tabari juga ada hadis yang tidak berasal dari Athiyah yaitu : Abu Kuraib bercerita dari Khalid bin Mukhalid, dari Musa bin Ya’qub, dari Hisyam bin Uqbah bin Abi Waqqash, dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah, ia berkata, “Ummu salamah memberi tahu kepadaku: “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengumpulkan Ali dan Husein kemudian beliau memasukkan ke bawah bajunya lalu berseru kepada Allah seraya berkata ‘Mereka Ahlul-Baitku!’ Maka Ummu salamah berkata, ‘Ya Rasulullah! Masukkanlah saya bersama mereka. Nabi Saw berkata, ‘Sesungguhnya kamu termasuk keluargaku.”
DR.Ali Ahmad As-Salus dalam buku “Imamah dan Khilafah” menjelaskan panjang lebar sanad hadis tersebut, bahwasanya hadis tsb dhaif yaitu terdapat Khalid bin Mukhalid yang dinilai dhaif.

Benarkah Khalid bin Mukhallid dinilai dhaif?. Dalam Hadi As Sari Ibnu Hajar Al Asqalani jilid 2 hal 163, Ibnu Hajar justru menta’dilkan Khalid bin Mukhallid Al Qatswani.

• Ibnu Hajar berkata ”Para pemuka dan guru-guru Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Khalid. Imam Bukhari juga meriwayatkan satu hadis darinya”.
• Menurut Al Ajli, Khalid tsiqat tapi bertasyayyu’
• Shalih bin Jazarah berkata ”Khalid itu tsiqat tetapi ia dituduh pemuja Ali yang ekstrim”.
• Menurut Ahmad, Khalid jujur tapi bertasyayyu’
• Abu Dawud juga menilai Khalid jujur tapi bertasyayyu’
• Abu Hatim berkata ”Hadisnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah”
• Ibnu Saad berkata ”Ia seorang Syiah yang berlebih-lebihan”.

Jelas sekali bahwa Khalid adalah seorang tsiqat dan jujur. Sedangkan celaan untuknya hanyalah dia tasyayyu’, dituduh pemuja Ali yang ekstrim dan seorang Syiah yang berlebih-lebihan. Oleh karena itulah Abu Hatim berkata tidak bisa dijadikan hujjah. Hal ini jelas tidak benar karena Khalid justru dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari. Jarh terhadap Khalid yang dituduh Syiah ekstrim atau berlebihan telah ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan menyatakan bahwa Khalid hanya bertasyayyu’ dan itu tidak merusak hadisnya atau tidak membahayakan.

Khalid jelas telah dinyatakan tsiqat dan jujur, oleh karenanya jarh terhadap Khalid harus disertai alasan yang kuat. Pernyataan bahwa beliau seorang Syiah jelas tidak menjatuhkan kredibilitas Beliau karena cukup banyak perawi kitab shahih yang dituduh Syiah tetapi tetap dinyatakan tsiqat atau diterima hadisnya. Jadi hadis dalam Tafsir Ath Thabari itu adalah shahih tidak dhaif seperti yang dikatakan oleh Ali As Salus dan dikutip oleh saudara Ja’far.

Mengenai hadis riwayat lain dalam Tafsir Ath Thabari yang dinyatakan dhaif oleh penulis(saudara Ja’far) karena kedudukan Athiyyah. Maka saya jawab: Athiyyah memang dikenal dhaif tetapi beliau juga dita’dilkan oleh Ibnu Saad dan Yahya bin Main. Selain itu Athiyyah adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan perawi dalam kitab Sunan. Oleh karena itu pendapat yang benar tentang Athiyyah adalah hadis beliau memang tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat ditulis dan dijadikan I’tibar atau riwayat pendukung.

Jadi hadis riwayat Athiyyah ini hanyalah pendukung dari riwayat lain yang shahih. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menerima riwayat Athiyyah tentang Ayat Tathir ini walaupun pada saat yang lain saya tidak menerima riwayat Athiyyah(riwayat ayat tabligh misalnya, karena saya belum menemukan sanad yang shahih tentang ayat tabligh ini).

Ayat Tathir Surat Al Ahzab 33 Bukan Untuk Istri-istri Nabi SAW.

Telah dibuktikan dalam hadis-hadis shahih bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hal ini bisa dilihat dari

  • Hadis Shahih Sunan Tirmidzi menyatakan Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah. Dari hadis tersebut diketahui ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa penyelimutan Ahlul Bait SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
  • Hadis riwayat An Nasai dalam Khashaish Al Imam Ali hadis 51 dan dishahihkan oleh Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari. Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash Dan ketika ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33)” turun Beliau SAW memanggil Ali,Fathimah,Hasan dan Husain lalu bersabda Ya Allah mereka adalah keluargaku”.

Hadis-hadis tersebut jelas menyatakan bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya dan ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Hadis Shahih Sunan Tirmidzi itu juga menjelaskan bahwa Ayat Tathir jelas tidak ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW. Bukti hal ini adalah

  • Pertanyaan Ummu Salamah, jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW.
  • Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri.

Untuk meyakinkan mari kita lihat Asbabun Nuzul ayat sebelum Ayat Tathir yaitu Al Ahzab ayat 28 dan 29 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28). Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29).

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul As Suyuthi, Beliau membawakan riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i yang berkenaan turunnya ayat ini, riwayat itu jelas berkaitan dengan peristiwa lain(bukan penyelimutan) dan ditujukan kepada istri-istri Nabi SAW.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Bakar meminta izin berbicara kepada Rasulullah SAW akan tetapi ditolaknya. Demikian juga Umar yang juga ditolaknya. Tak lama kemudian keduanya diberi izin masuk di saat Rasulullah SAW duduk terdiam dikelilingi istri-istrinya(yang menuntut nafkah dan perhiasan). Umar bermaksud menggoda Rasulullah SAW agar bisa tertawa dengan berkata “ya Rasulullah SAW sekiranya putri Zaid, istriku minta belanja akan kupenggal lehernya”.

Maka tertawa lebarlah Rasulullah SAW dan bersabda “Mereka ini yang ada disekelilingku meminta nafkah kepadaku”. Maka berdirilah Abu Bakar menghampiri Aisyah untuk memukulnya dan demikian juga Umar menghampiri Hafsah sambil keduanya berkata “Engkau meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW”. Maka Allah menurunkan ayat “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28) sebagai petunjuk kepada Rasulullah SAW agar istr-istrinya menentukan sikap.

Beliau mulai bertanya kepada Aisyah tentang pilihannya dan menyuruh bermusyawarah lebih dahulu dengan kedua ibu bapaknya . Aisyah menjawab “Apa yang mesti kupilih?”. Rasulullah SAW membacakan ayat Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29). Dan Aisyah menjawab “Apakah soal yang berhubungan dengan tuan mesti kumusyawarahkan dengan Ibu Bapakku? Padahal aku sudah menetapkan pilihanku yaitu Aku memilih Allah dan RasulNya”.(diriwayatkan oleh Muslim, ahmad dan Nasa’i dari Abiz Zubair yang bersumber dari Jubir)

Oleh karena itu jelas sekali kekeliruan saudara Ja’far dalam tulisannya, dimana dia berkata

“Lihatlah bahwasanya ayat-ayat sebelum (Q.S.Al-Ahzab 28-32) dan sesudah (Q.S.Al-Ahzab 34) dari ayat 33 bercerita tentang istri Nabi SAW, maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAw. Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas”.

Jawab saya :Berdasarkan hadis Asbabun Nuzul yang shahih maka didapati bahwa Ayat Tathir turun berkaitan dengan peristiwa lain yang tidak berhubungan dengan istri-istri Nabi SAW. Hal ini berbeda dengan ayat sebelumnya yang memang ditujukan terhadap istri-istri Nabi SAW.

Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi ”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (33)”. Telah jelas berdasarkan hadis Shahih Sunan Tirmidzi bahwa ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya turun khusus ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW. Jadi bisa disimpulkan kalau penggalan pertama Al Ahzab 33 memang ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW sedangkan penggalan terakhir berdasarkan dalil shahih turun sendiri dan ditujukan untuk pribadi-pribadi yang lain. Hal ini bisa saja terjadi jika ada dalil shahih yang berkata demikian.

Saudara Ja’far menolak hal ini dengan berkata

Jelas sekali pangkal ayat 33 tsb mengacu pada para istri Nabi SAW. Atau kata-katanya maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAW.

Mungkin Secara logika Penulis adalah wajar jika satu ayat biasanya diturunkan secara keseluruhan. Hal ini memang benar tetapi satu ayat Al Quran juga bisa diturunkan dengan sepenggal-sepenggal dan berkaitan dengan peristiwa yang berlainan karena memang ada dalil shahih yang menunjukkan demikian. Ayat Tathir di atas jelas salah satunya. Mari kita lihat contoh lain yaitu Al Maidah ayat 3 dan 4.

Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaku. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al Maidah ayat 3).

Penggalan Al Maidah ayat 3 yaitu Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu berdasarkan dalil yang shahih turun di arafah dan ayat ini masyhur sebagai ayat Al Quran yang terakhir kali turun. Saya akan mengutip hadis yang sebelumnya pernah ditulis oleh saudara Ja’far

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 3 membawakan riwayat Ibnu Mandah dalam Kitabus Shahabah dari Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar dari bapaknya yang bersumber dari datuknya yaitu.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Hibban sedang menggodog daging bangkai, Rasulullah SAW ada bersamanya. Maka turunlah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang. Riwayat ini jelas berkaitan dengan peristiwa yang berbeda dengan peristiwa hari arafah tetapi ayat yang dimaksud jelas sama-sama Al Maidah ayat 3. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Al Maidah ayat 3 turun sepenggal-sepenggal dan penggalan “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” turun di Arafah.

Mari kita lihat Al Maidah ayat 4, Mereka menyakan kepadamu :Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.(Al Maidah ayat 4).

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul, As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 4 membawakan riwayat Ath Thabrani, Al Hakim, Baihaqi dan lainnya bersumber dari Abu Rafi’, riwayat Ibnu Jarir dan riwayat Ibnu Abi Hatim.
Dikemukakan bahwa Adi bin Hatim dan Zaid bin Al Muhalhal bertanya kepada Rasulullah SAW ”kami tukang berburu dengan anjing dan anjing suku bangsa dzarih pandai berburu sapi, keledai dan kijang, padahal Allah telah mengharamkan bangkai. Apa yang halal bagi kami dari hasil buruan itu? Maka turunlah Al Maidah ayat 4 yang menegaskan hukum hasil buruan.(riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair).

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas Al Maidah ayat 3 dan 4 diturunkan berkaitan dengan makanan yang halal dan haram tetapi di tengah-tengah ayat tersebut terselip pembicaraan lain yaitu “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. Padahal telah jelas bahwa ayat ini diturunkan di arafah sebagai tanda bahwa agama Islam telah sempurna.

Lihat baik-baik Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai, ini dilihat dari kata-kata padahal Allah telah mengharamkan bangkai pada hadis asbabun Nuzul Al Maidah ayat 4 riwayat Ibnu Abi Hatim di atas. Oleh karena itu ketika Al Maidah ayat 3 turun mengharamkan bangkai, penggalan “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” belum turun karena Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seandainya penggalan ini turun bersamaan dengan pengharaman bangkai maka tidak akan ada syariat lain lagi yang diturunkan karena agama Islam telah sempurna tetapi kenyataannya setelah pengharaman bangkai Al Maidah ayat 3 diturunkan Al Maidah ayat 4 tentang apa yang dihalalkan.

Pernyataan Bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan untuk Ahlul Kisa’ saja yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW tidak hanya dinyatakan oleh Syiah saja. Bahkan ada Ulama Sunni yang berpandangan demikian. Ulama Sunni yang dimaksud yaitu

  • Abu Ja’far Ath Thahawi (yang terkenal dengan karyanya Aqidah Ath Thahawiyah) juga menyatakan hal yang serupa dalam karyanya Musykil Al Atsar jilid I hal 332-339 dalam pembahasannya tentang hadis-hadis Ayat Tathir dimana dia berkata ”Karena maksud sebenarnya dari ayat suci ini hanyalah Rasulullah SAW sendiri, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain mereka”.
  • Sayyid Alwi bin Thahir dalam kitab Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 292-293 mengutip pernyataan Sayyid Ali As Samhudi yang menyatakan bahwa Ayat Tathir khusus untuk Ahlul Kisa’ dan bukan istri-istri Nabi SAW.

Kerancuan Tafsir Ayat Tathir oleh Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus.

Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus menyatakan bahwa Ahlul bait dalam Ayat Tathir adalah istri-istri Nabi SAW beserta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Karena menurut mereka hadis-hadis shahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait itu tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW.

Hal ini telah dikutip oleh saudara Ja’far dalam tulisannya

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa sesungguhnya ayat ini adalah dalil masuknya para istri Nabi SAW dalam ahlul bait karena merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat. Dan menurut pendapat shahih, yang termasuk ahlul bait itu adalah mereka ditambah dengan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

dan saudara Ja’far juga mengutip Ali As Salus

Menurut DR.Ali Ahmad As-Salus, Q.S.Al-ahzab ayat 33 tsb berlaku umum yaitu bukan hanya untuk istri nabi saw, tetapi juga untuk Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Jika ayat 33 tsb hanya untuk istri nabi saw maka harusnya digunakan kata jamak perempuan (muannats) yaitu ‘ankunna dan yuthohhirokunna. Alasan mengapa dalam ayat 33 ini digunakan kata jamak laki-laki (Mudzakkar) yaitu ‘ankum (darimu) dan yuthohhirokum (menyucikanmu) adalah karena dalam ayat tsb juga mengacu kepada Ali, Hasan dan Husein. karena Karena jika bentuk Mudzakkar (mengacu pada Ali, Hasan dan Husein) dan Muannats (mengacu Istri-istri Nabi dan Fatimah) berkumpul maka yang digunakan bentuk Mudzakkarnya. Waallahu’alam bishowab.

Kemudian ketika menafsirkan Ayat tathir tersebut saudara Ja’far menuliskan

Q.S.Al-Ahzab 33 ini juga tidak menyatakan kemaksuman ahlul bait.
“…Allah bermaksud HENDAK menghilangkan dosa dari kamu..” (Q.S.Al-Ahzab 33).
Ayat ini bukanlah bercerita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah. Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) sehingga bila mereka berbuat dosa maka mereka akan mendapatkan siksaan dua kali lipat dan bila mereka taat maka mereka akan mendapat pahala dua kali lipat. Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Dimana letak kerancuannya? Saudara Ja’far ketika menafsirkan ayat tathir beliau mengaitkan kesucian itu dengan ayat sebelumnya. Dia menulis

Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) dan kata-kata Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Seandainya kita berusaha menafsirkan Ayat Tathir dengan melihat ayat-ayat sebelumnya, seperti yang dikatakan saudara Ja’far

Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah.

Berarti kesucian dalam Ayat Tathir itu berkaitan dengan syariat Allah yang ditetapkan oleh ayat sebelumnya atau jika pribadi-pribadi yang dimaksud dalam Ayat Tathir itu melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah pada ayat-ayat sebelumnya maka mereka akan mendapat kesucian yang dikehendaki allah SWT untuk mereka. Nah letak kejanggalannya adalah Ketentuan yang dimaksud itu adalah

• Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik
• Hendaklah kamu tetap di rumahmu
• Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
• Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.

Semua ketentuan ini selain yang terakhir adalah ketentuan khusus wanita dalam hal ini istri-istri Nabi SAW, jadi bagaimana bisa itu dikaitkan dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Padahal jelas sekali Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ali As Salus menyatakan bahwa mereka juga termasuk Ahlul Bait dalam ayat tersebut dan ini yang dikutip oleh saudara Ja’far.

Bukankah dia saudara Ja’far menulis

Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas.

Lalu apa sebenarnya makna kesucian bagi Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain?.

Mungkin saudara Ja’far akan berkata seperti yang dia kutip dari Ibnu Taimiyyah,

Ibnu Taimiyah berkata bahwa ayat ke-33 surat Al-Ahzab bukanlah berita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Dalam ayat ini justru terdapat perintah yang wajib dilaksanakan oleh Ahlul Bait (Al-Muntaqa)..yaitu perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa.

Maka kita dapat bertanya dari mana dalilnya bahwa perintah yang dimaksud untuk Ahlul Bait itu adalah perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa. Apakah anda melihat perintah Allah dalam ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33). Jelas tidak ada perintah apapun dalam ayat ini, kemudian apakah anda akan berkata bahwa perintah itu ada pada ayat-ayat sebelumnya. Kalau begitu maka kerancuannya juga sama, perintah pada ayat sebelumnya jelas perintah khusus untuk wanita. Lantas apa kaitannya dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Kemudian saudara Ja’far menuliskan

Jumhur ulama AhluSunnah tidak setuju bahwa Ahlul Bait Nabi SAW hanya terbatas pada keturunan Fatimah r.a.

Jawab saya: saya tidak tahu darimana dalilnya pernyataan ini. Padahal telah jelas dari Rasulullah SAW bahwa Ahlul Bait Nabi SAW adalah Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Jika istri-istri Nabi SAW, keluarga Aqil, Ja’far dan Abbas juga disebut Ahlul Bait maka sebutan itu adalah dari segi bahasa saja yaitu mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi SAW. Sedangkan istilah Ahlul Bait yang berkaitan dengan keutamaan mereka jelas ditujukan kepada Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as beserta keturunan Sayyidah Fathimah as yang memiliki nasab dengan Nabi SAW.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Setiap Sebab dan Nasab akan putus pada hari kiamat kecuali Sebab dan NasabKu”.(Hadis riwayat Hakim dalam Al Mustadrak jilid III hal 142,Thabrani, Al Haitsami dalam Al Majma Az Zawaid jilid 9 hal 173 dimana Rijalnya(perawinya) tsiqat dan hadis dalam Siyar A’lam An Nubala jilid III hal 500. Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy).

Kemudian penulis mengutip pernyataan Al Hakim

Bahkan, Al-Hakim, ulama dan ahli hadis AhluSunnah yang banyak meriwayatkan hadis keutamaan-keutamaan Ali tidak pernah menganggap ahlul bait seperti dalam pemahaman Syi’ah. Al-Hakim berkata, “Yang dimaksud dengan ahlul bait disini adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al-Qur’an. Adapun orang yang bodoh, atau orang alim yang bercampur dengan kemaksiatan, mereka itu adalah orang yang asing dalam posisi ini.”

Jelas sekali Syiah ketika berbicara tentang Ahlul Bait adalah mereka yang dimuliakan Allah SWT dalam hadis Tsaqalain dan Ayat Tathiir dan pernyataan mereka dalam hal ini memiliki dalil yang kuat.

Sedangkan pernyataan Al Hakim(jika benar dia berkata seperti itu, pernyataan ini sebenarnya ada dalam Imamah dan Khilafah Ali As Salus) bahwa Ahlul Bait adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al Quran jelas membutuhkan dalil dari mana dasarnya itu, kalau Cuma sekedar pendapat yang didasari dugaan bahwa ulama adalah orang yang tidak meninggalkan Al Quran maka ini tidak bisa menjadi hujjah sama sekali. Ulama adalah orang yang berusaha untuk tidak meninggalkan Al Quran bukan orang yang selalu bersama dengan Al Quran. Ada bedanya itu.

Atau tulisan saudara Ja’far bahwa

Asy-Syarif berkata, “Hadis ini memberikan pengertian tentang adanya orang dari ahlul bait yang suci yang pantas dijadikan pedoman dalam setiap masa sampai hari kiamat. Begitu juga Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka mendatangkan kesejahteraan terhadap penduduk bumi. Dan jika mereka pergi, maka hilanglah ketentraman penduduk bumi”.

Hadis yang dimaksud adalah hadis tsaqalain dan anehnya justru pengertian Asy Syarif seperti ini menjadi hujjah bagi Syiah bahwa harus berpegang dan berpedoman kepada Imam-imam Ahlul Bait as. Kalau ditujukan kepada Sunni maka saya dapat bertanya memangnya siapa diantara ahlul bait suci yang dijadikan pedoman dalam setiap masa oleh Sunni?. Salam damai.

Pos ini dipublikasikan di Analisis Hadis, Analisis Sejarah, Resensi Buku, Syiah di indonesia, Tafsir al-Quran dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s