Jawaban Untuk saudara Jafar mengenai Imamah

Oleh: J. al-Gar (secondprince)
Tulisan ini adalah tanggapan saya pribadi atas tulisan saudara Ja’far yang berjudul Apakah Memang Ada Dalil Tentang Imamah?. Tulisan Beliau ini adalah tulisan yang berupa kritik terhadap Syiah dan dalam tulisannya beliau mengutip tafsir dan hadis dari Ahlus Sunnah. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa ayang dimaksud oleh Beliau dengan dalil itu adalah dalil dari Sunni.

Tulisan itu bisa dibaca di blog beliau: http://jafarshodiqalpalembani.wordpress.com/2007/08/27/apakah-memang-ada-dalil-tentang-imamah-kritik-terhadap-syiah/ , (Sudah dihapus, tidak tahu kenapa?… hehehe).

Kecenderungan Sunni Dan Syiah

Secara sederhana memang rasanya aneh apabila ada dalil yang sangat jelas tentang Imamah di sisi Sunni karena jika ada maka itu akan membuat semua Sunni adalah Syiah atau tidak akan ada perbedaan Sunni dan Syiah. Lain halnya bagi Syiah disisi mereka dalil tentang Imamah itu sangat jelas sehingga mereka menjadikan itu sebagai dasar keimanan mereka. Oleh karena itu tidaklah benar langsung menyalahkan Syiah dengan dasar tidak ada dalilnya di sisi Sunni. Logika seperti ini terkesan berat sebelah dan bukankah mereka Syiah bisa mencap sebaliknya bahwa Sunni salah karena bertentangan dengan dalil yang shahih di sisi mereka.

Dalam perkembangannya Sunni dan Syiah seringkali berseteru pemahaman dan ini dapat dilihat dari karya-karya Ulama Sunni yang menyerang Syiah dan karya Ulama Syiah yang menjawab Ulama Sunni. Imamah jelas menjadi pokok permasalahan yang dibicarakan. Jadi bisa dikatakan apa yang ditulis oleh saudara Ja’far itu bukanlah hal baru oleh karenanya tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa banyak Ulama Syiah yang telah menjawab masalah yang beliau kemukakan.

Yang perlu diperhatikan bahwa Ulama Syiah seringkali berargumentasi tentang Imamah dengan menggunakan dalil di sisi Sunni. Tentu saja hal ini membuat respon yang kuat dari pihak Sunni. Mereka berusaha menyangkal dalil sunni yang digunakan oleh pihak Syiah. Penyangkalan ini dapat berupa penolakan Sunni akan shahihnya dalil itu walaupun ada di kitab Sunni sendiri dan yang kedua penolakan Sunni terhadap penafsiran Syiah terhadap dalil Sunni tersebut. Oleh karena itu wajar jika polemik ini jelas tidak pernah selesai.
Kecenderungan atau subjektivitas dalam hal ini jelas cukup berperan di kedua belah pihak. Mari kita batasi dengan dalil Sunni yang dipakai pihak Syiah. Dalam hal ini Kecenderungan Ulama Syiah adalah

• Mereka kadang cukup berpuas dengan adanya pihak sunni yang menshahihkan dalil yang mereka pakai seraya mengabaikan pihak sunni lain yang menolaknya
• Mereka Ulama Syiah juga cenderung menyatakan telah terjadi ijma’ Ulama Sunni terhadap dalil yang mereka pakai walaupun pada kenyataannya terdapat ulama sunni lain yang menolak ijma’ ini.

Sedangkan di sisi Sunni juga terdapat kecenderungan di antara Ulama-ulamanya ketika berhujjah dengan Ulama Syiah

• Mereka Ulama Sunni cenderung untuk menyalahkan setiap apapun yang dikatakan Syiah walaupun dalilnya ternyata shahih disisi Sunni(kecenderungan ini saya temukan pada Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah dan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah)
• Selain itu Ulama Sunni juga punya kecenderungan untuk begitu mudah mencacat suatu dalil dengan alasan perawi dalil itu adalah syiah walaupun dalil itu sendiri tercatat dalam kitab Sunni.

Semua kecenderungan ini membuat polemik Sunni dan Syiah tidak pernah selesai, sehingga tidak jarang ada yang melihat bahwa kebenaran ada disisi Syiah atau sebaliknya Sunnilah yang benar. Semuanya itu tergantung juga dari kecenderungan mereka yang mempelajari dalil yang dipaparkan pihak Syiah dan Sunni. Tulisan saya adalah jelas tidak bermaksud menyimpulkan mana yang benar dalam masalah ini. Saya hanya ingin menampilkan bagaimana sudut pandang Syiah terhadap dalil Sunni yang mereka dakwa memperkuat keyakinan mereka. Tulisan ini hanyalah tanggapan terhadap tulisan saudara Ja’far.

Hadis Kepemimpinan Imam Ali

Beliau Saudara Ja’far mengawali tulisannya dengan masalah Imamah yang diyakini oleh Syiah sebagai rukun iman. Berangkat dari sini beliau mempermasalahkan bagaimana dengan umat Islam yang tidak mempercayai Imamah dengan kata lain Islam Sunni. Sebenarnya pandangan Syiah terhadap keislaman Sunni ini sudah ditetapkan oleh ulama Syiah bahwa Sunni adalah sah keislamannya. Ini adalah pendapat yang muktabar di sisi Syiah seperti dalam tulisan saya. Tidak hanya Muhammad Husain Kasyif Al-Githa yang menyatakan seperti itu, Sayyid Abdul Husain Syarafudin Al Musawi dan Murtadha Muthahhari juga berpandangan demikian. Dan pandangan ini memiliki landasan dari hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah.

Beliau kemudian melanjutkan

Jika seandainya Imamah termasuk rukun iman maka seharusnya ada dalil-dalil yang jelas dan tegas dari Al-Qur’an maupun hadis nabi Muhammad SAW tentang hal ini.

Maka jawab saya di sisi Syiah masalah ini jelas memiliki landasan yang kuat dari Al Quran(ini masalah penafsiran) walaupun tidak bersifat tegas(karena memerlukan hadis) tetapi masalah ini memiliki nash yang tegas dalam hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah. Kemudian saudara Ja’far menulis

Setahu saya tidak ada dalil (dari Qur’an maupun hadis) yang mengatakan secara jelas dan tegas bahwa Ali bin Abi Thalib r.a berikut keturunan-keturunannya adalah pengganti rasulullah SAW.

Jawab saya, saya setuju kalau dalam Al Quran tidak ada penunjukkan jelas masalah ini tetapi bagi Syiah banyak sekali hadis-hadis Imam Ahlul Bait as yang bersifat jelas tentang ini.

Sepertinya yang beliau maksud hadis itu hanyalah hadis-hadis dari golongan Sunni saja sedangkan di sisi Syiah maka itu tidak disebut hadis. Pandangan seperti ini adalah tidak benar dan berat sebelah, Syiah mempunyai dasar yang kuat untuk berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as. Mari kita perjelas

• Syiah berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as adalah sesuai dengan landasan mereka yaitu Hadis Tsaqalain yang tidak hanya shahih dan mutawatir di sisi Syiah tetapi juga shahih di sisi Sunni.
• Sunni sering mendakwa Syiah membuat-buat hadis dengan mengatasnamakan Ahlul Bait as. Pernyataan ini adalah pernyataan sepihak dan maaf sangat subjektif. Ulama Sunni seringkali menuduh perawi-perawi hadis Syiah sebagai pemalsu hadis. Hal ini tidak bisa diterima karena Syiah memiliki bukti yang jelas dari kitab Rijal mereka tentang perawi-perawi hadis Syiah. Dengan kata lain mengapa Ulama Syiah harus menghukum perawi-perawi hadis mereka dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh Ulama Sunni. Bukankah Ulama Sunni sendiri menetapkan ukuran perawi-perawi hadis mereka(sunni) dengan sumber mereka sendiri tidak dari sumber Syiah.

Baiklah mari kita ikuti kehendak penulis(beliau) dengan berlandaskan hadis-hadis di sisi Sunni saja. Beliau berkata

Adapun dalil-dalil yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a adalah khalifah / imam setelah Rasulullah SAW adalah hadis maudhu’ (palsu) dan dha’if (lemah).

Sekali lagi yang dimaksud hadis di sini maksudnya hadis di sisi Sunni. Mari kita lihat hadis yang beliau maksud,

. “Barangsiapa yang ingin hidup seperti hidupku, ingin meninggal seperti aku meninggal, dan bertempat di surga yang telah dijanjikan Allah SWT kepadaku dan pohon-pohon ditanam oleh kedua tangan-Nya maka dia harus menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin, sebab dia tidak akan mengeluarkan kamu dari kebenaran dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam kesesatan” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ath-Thabrani(bukan At Thabari seperti yang dikutip penulis) dalam Al-Mu’jamal Kabir, Ibnu Syahin dalam Syarah as-Sunnah).
Albani berkata : Hadis ini maudhu’ (lihat kitabnya Silsilah al-Ahadits al-dah’ifah wa Mawdhu’ah karya Nashiruddin Albani).

Penulis(beliau) menyatakan hadis ini maudhu’ berdasarkan pernyataan Syaikh Al Albani di atas. Hadis ini dan hadis no 2 serta no 3 memiliki matan yang sama(dengan sedikit tambahan tentang keturunan Ali bin Abi Thalib), hadis ini dijadikan hujjah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi dalam Al Muraja’at dan beliau menyatakan bahwa hadis tersebut shahih. Pernyataan ini ditolak oleh Syaikh Al Albani yang justru menyatakan hadis tersebut maudhu’. Yang perlu diperhatikan adalah hadis ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak jilid 3 hal 128 dan beliau menyatakan shahih. Paling tidak ini bisa dijadikan alasan dari pihak Syiah bahwa ada ulama sunni yang menshahihkan hadis ini. Walaupun begitu saya sendiri lebih cenderung untuk menyatakan bahwa hadis ini dhaif karena dalam perawinya ada Yahya binYa’la Al Aslami yang dikenal dhaif. Oleh karena itu Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak menolak pernyataan shahihnya hadis ini oleh Al Hakim.

Kemudian saudara Ja’far melanjutkan dengan mengutip hadis “Sesungguhnya Ali bagian diriku dan aku bagian darinya. Dan dia adalah pemimpin setiap orang mukmin yang sesudahku” (Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dari Ja’far bin Sulaiman). Anehnya beliau mencantumkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif atau maudhu’ karena kredibilitas Ja’far bin Sulaiman Al Dhab’i.

Dalam Mizan Al Itidal Adz Dzahabi jilid 1 hal 408 dan Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 2 hal 95 terdapat keterangan tentang Ja’far bin Sulaiman.

• Yahya bin Main menyatakan bahwa Ja’far bin Sulaiman tsiqat
• Ahmad bin Hanbal menilai Ja’far tidak tercela
• Ibnu Saad menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat tetapi tasyayyu
• Hammad bin Zaid berkata perihal Ja’far ”Tidak terlarang menerima riwayatnya meskipun dia Syiah dan banyak menceritakan tentang Ali dan orang Basrah berlebih-lebihan dalam memuji Ali”
• Ahmad bin Adiy menegaskan ”Ja’far itu orang Syiah tetapi itu bukan masalah. Dia juga meriwayatkan hadis-hadis yang menerangkan keutamaan Abu Bakar dan Umar dan hadis-hadisnya tidak ditolak. Menurut pendapatku dia termasuk orang yang pantas diterima riwayatnya”.
• Ibnu Hibban berkata ”Ja’far seorang tsiqat dalam meriwayatkanhadis”.

Berdasarkan ini maka Ja’far bin Sulaiman adalah tsiqat. Keraguan yang disampaikan penulis perihal Ja’far bin Sulaiman seperti dalam kata-kata Sedangkan dalam kitabnya, Ad-Dhu’afa’,bukhari berkata,”Dia diperselisihkan dalam sebagian hadisnya”. Ibnu Syahiin dan Ibnu Ammar mengatakan bahwa Ja’far bin Sulaiman dhaif. Keraguan seperti ini tidak tepat dan tidak bisa dijadikan hujjah karena

• Jika keadaan suatu perawi telah jelas ketsiqatannya maka setiap jarh yang dikemukakan harus disertai alasan yang kuat. Jadi tidak hanya sekedar jarh(celaan).
• Penulis(beliau) tidak menyampaikan apa alasan jarh terhadap Ja’far bin Sulaiman. Dari kitab Al Mizan memang beredar isu kalau Ja’far bin Sulaiman memaki Abu Bakar dan Umar(kemungkinan besar hal ini yang menyebabkan keraguan terhadap Ja’far bin Sulaiman). Saya tidak menemukan alasan yang lain tentang celaan terhadap Ja’far bin Sulaiman selain hal ini. Tetapi isu ini telah dibantah oleh Ulama hadis seperti Ibnu Adiy bahkan Al Dzahabi berkata ketika membenarkan pernyataan Ibnu Adiy ”terbukti bahwa Ja’far bin Sulaiman juga meriwayatkan hadis keutamaan Abu Bakar dan Umar. Jadi Ja’far itu jujur dan polos”.

Ja’far bin Sulaiman adalah perawi hadis Shahih Muslim dan Kitab Sunan serta beliau telah dikenal tsiqat. Oleh karena itu berdasarkan hal ini maka hadis yang dikemukakan saudara penulis itu adalah hadis yang shahih.. Hadis yang dipermasalahkan penulis itu adalah hadis Sunan Tirmidzi no 3712 yang dinyatakan hasan gharib oleh Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadis dengan matan seperti ini juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad jilid I hal 330 hadis no 3062 & 3063 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 134 dan beliau menyatakan hadis tersebut shahih. Pernyataan Al Hakim ini dibenarkan oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Jadi kesimpulannya hadis tersebut adalah shahih dan dalam hal ini saya menunjukkan keheranan saya terhadap pernyataan penulis yang memasukkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif dan maudhu’.

Kemudian beliau penulis itu melanjutkan

Seandainya masalah imamah adalah masalah yang termasuk sangat-sangat penting (termasuk rukun iman / syarat kesempurnaan iman) maka harusnya Rasulullah SAW menyatakan keimamahan Ali dan keturunannya dengan tegas dan sering,

Pernyataan seperti ini sedikit kurang jelas menurut saya. Bagi Syiah keimamahan Ali dan keturunannya bersifat tegas, dan dalil-dalil tentang ini dapat ditemukan dalam kitab Sunni. Bukankah jika Rasulullah SAW menetapkan hal ini berapapun banyaknya mau sedikit atau sering maka itu sudah menjadi hujjah yang nyata.

Kemudian pernyataan beliau yang menyamakan rukun iman dan syarat kesempurnaan iman itu juga layak dikritisi maksudnya. Rukun iman adalah berkaitan dengan apa yang kita yakini. Apa salahnya jika Syiah meyakini setiap apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang Imamah(menurut mereka). Lalu apa hubungannya dengan syarat kesempurnaan iman, apakah penulis ingin menyatakan bahwa jika tidak meyakini Imamah maka imannya tidak sempurna. Disini perlu diperjelas keyakinan terhadap Imamah adalah keyakinan yang bersumber dari Rasulullah SAW(menurut Syiah). Tentu saja bagi mereka yang menganggap dalil syiah itu samar atau tidak benar jelas tidak akan mengimaninya. Jadi perbedaannya ada pada persepsi masing-masing.

Saudara Ja’far melanjutkan

sehingga dengan demikian akan dijumpai banyak hadis-hadis yang shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur serta tidak ada/sangat sedikit perselihan dalam masalah sanadnya mengenai hal tsb.

Dalil disisi Syiah jelas sangat banyak oleh karena itu mereka mengimaninya. Sedangkan dalil di sisi Sunni maka Syiah lagi-lagi berkata juga banyak, contohnya adalah hadis Al Ghadir yang mutawatir di sisi Sunni. Hadis Al Ghadir ini dari sisi sanad tidak bisa ditolak tetapi Sunni memang mengartikan lain hadis ini. Yang perlu diingat kesalahan atau penolakan memang selalu saja bisa dicari-cari.

Seprti yang dikatakan saudara Ja’far

Akan tetapi kenyataan yang ada adalah sebaliknya; hadis-hadis tentang keimamahan Ali dan keturunannya adalah hadis yang maudhu’ atau dha’if atau jika tidak maudhu’/dhaif maka akan dijumpai banyak perselisihan dalam hal sanadnya atau sedikit jalur periwayatannya.

Jawab saya: cukup banyak dalil shahih di sisi Sunni yang dijadikan dasar oleh Ulama Syiah hanya saja Sunni menafsirkan lain dalil-dalil tersebut. Oleh karena itu seharusnya yang perlu ditelaah adalah penafsiran mana yang benar atau lebih benar. Mari selanjutnya kita bahas ayat-ayat Al Quran yang dibicarakan oleh penulis tersebut.

Ayat Al Wilayah

Ayat Al Wilayah:

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang ketika itu memberikan cincinnya kepada peminta-minta ketika beliau dalam posisi ruku’ dalam sholat.

Dan sepertinya sang penulis(saudara Ja’far) menunjukkan keraguannya tentang hal ini. Beliau berkata

Hadis-hadis tentang asbabun nuzul ayat ini adalah hadis-hadis yang periwayatnya diperselihkan atau bahkan mungkin hadis dhaif/maudhu’.

Pernyataan ini adalah tidak benar, hadis yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini memiliki banyak sanad yang diriwayatkan dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah, sebagian hadisnya memang diperselisihkan perawinya dan dhaif tetapi sebagian lagi ada yang shahih. Oleh karena itu hadis-hadis tersebut satu sama lainnya saling menguatkan.

Dalam kitab Lubab Al Nuqul fi Asbabun Nuzul Jalaludin As Suyuthi hal. 93 beliau menjabarkan jalur-jalur dari hadis asbabun nuzul ayat ini, kemudian ia berkata ” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”. Atau dapat dilihat dalam Edisi terjemahannya dari Kitab As Suyuthi oleh A Mudjab Mahali dalam Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al Quran hal 326 menguatkan asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali. Beliau membawakan hadis At Thabrani dalam Al Awsath dan mengkritiknya karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya tetapi kemudian beliau melanjutkan keterangannya ”Sekalipun hadis ini ada rawi yang majhul(tidak dikenal) tetapi mempunyai beberapa hadis penguat di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Abdil Wahab bin Mujahid dari Ayahnya dari Ibnu Abbas. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu Abbas dan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid dan Ibnu Abi Hatim dari Salamah bin Kuhail. Hadis ini satu sama lainnya saling kuat menguatkan”.

Pernyataan Ulama Syiah bahwa mayoritas ahli hadis dan ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali, sebenarnya juga dinyatakan oleh Ulama Sunni At Taftazani Asy Syafii dalam Syarh Al Maqashid, Al Jurjani dalam Syarh Al Mawaqif dan Al Qausyaji dalam Syarh Tajrid. Bahkan Al Alusi dalam Ruh Al Ma’ani jilid 6 hal 167 mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali ra adalah pendapat kebanyakan Ahli hadis.

Saya ingin sekali meminta kepada penulis tersebut siapa yang menyatakan hadis asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali adalah dhaif atau maudhu’ setelah menganalisis semua jalur sanadnya. Sekedar pernyataan dari Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah atau Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah jelas tidak kuat. Alasannya karena mereka yang saya sebutkan itu tidak menganalisis semua jalur sanad hadis asbabun nuzul ayat Al Wilayah. Mereka hanya mencacat sebagian hadisnya, seperti Ali As Salus yang hanya membahas hadis ini dalam Tafsir Ath Thabari kemudian langsung memutuskan bahwa riwayat tersebut dhaif tanpa melihat banyak sanad lainnya dari kitab lain. Apalagi Ibnu Taimiyyah yang melakukan banyak kekeliruan dalam Minhaj As Sunnah antara lain beliau mengatakan bahwa hadis asbabun nuzul ayat ini tidak ditemukan dalam Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Al Baghawi padahal kenyataannya kedua kitab tafsir itu memuat hadis yang kita bicarakan ini.

Kemudian sang penulis(Ja’far) juga menyatakan keraguan bahwa Ayat Al Wilayah ini turun untuk Imam Ali, beliau berkata

Dalam ayat tsb sangat jelas bahwa “orang-orang yang beriman…” adalah jamak, maka bagaimana mungkin ayat itu menunjuk kepada satu orang yaitu Ali bin Abi Thalib r.a.

Disini letak kekeliruan sang penulis dimana beliau telah menempatkan subjektivitasnya dalam menilai suatu nash. Ulama Syiah Syaikh Al Musawi dalam Al Muraja’at telah menyatakan bahwa memang ada ayat Al Quran yang kata-katanya jamak tetapi ditujukan untuk orang tertentu. Saya tidak akan menukil pernyataan Syaikh Al Musawi cukuplah kiranya saya menukil pernyataan penulis sendiri dalam pembahasan Ayat Al Mubahalah

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61).

Tentang ayat ini penulis(saudara Ja’far) berkata

Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib.

Pernyataan An Nisaana yang diterjemahkan istri-istri kami atau perempuan perempuan kami adalah bersifat jamak, lalu mengapa hanya mengacu pada Sayyidah Fatimah Az Zahra saja.(perlu diingatkan bahwa dalam Shahih Muslim jelas bahwa hanya Sayyidah Fatimah Az Zahra as satu-satunya wanita yang diseru Nabi SAW untuk menyertai Beliau SAW bermubahalah). Jadi kalau pernyataan tentang ayat mubahalah ini diterima lantas mengapa mempermasalahkan Ayat Al Wilayah.
Selanjutnya saudara Ja’far menuliskan Syi’ah mengatakan bahwa penggunaan kata

“orang-orang yang beriman..dst” padahal ayat tersebut berkenaan dengan Ali dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam.
Jawabanku; Bagaimana mungkin Allah menjadikan perbuatan memberikan zakat/sedekah ketika sholat sebagai teladan yang ‘terukir’ dalam Qur’an padahal Sholat membutuhkan konsentrasi yang penuh?
.

Pernyataan seperti dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam, sebenarnya juga dikemukakan oleh Ulama Sunni Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf ketika membahas ayat Al Wilayah. Yang ingin penulis(saudara Ja’far) sampaikan adalah bagaimana mungkin bisa dibolehkan dalam shalat padahal shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Sebelum menjawab penulis maka marilah kita perhatikan hadis-hadis ini.
“Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

“Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat’.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.” Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

“Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

“Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Seandainya kita memakai logika yang dipakai oleh saudara penulis itu maka kita akan mengatakan maka Bagaimana mungkin membunuh ular atau kalajengking, menghadang orang yang lewat, memberi isyarat kepada orang yang berbicara atau memberi salam, menggendong anak, membukakan pintu dan menarik tubuh orang ketika shalat menjadi teladan karena bukankah shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Lantas apakah hadis-hadis itu mesti ditolak?.

Mari kita lanjutkan tulisan Beliau

Memang sangat bagus untuk tidak menunda-nunda membantu orang miskin yang butuh kepada kita tetapi sholat tidaklah memakan waktu yang lama, bukankah lebih baik jika orang miskin tsb meminta setelah sholat usai? atau jika dilihat dari sudut pandang orang miskin tsb, maka Al-Qur’an membolehkan/tidak menegur orang miskin meminta sedekah kepada orang yang lagi sholat padahal menurut saya (dan semua orang) perbuatan orang miskin tsb kurang beradab.

Apakah benar perbuatan orang miskin tersebut kurang beradab? Saya heran apakah penulis membaca sendiri hadis tentang ayat Al Wilayah ini. Bukankah pada hadis itu dijelaskan bahwa awalnya pengemis itu meminta-minta di masjid kepada beberapa orang di masjid(yang sedang tidak shalat) tetapi tidak ada satupun yang memberi. Ketika itu Imam Ali sedang shalat kemudian Beliau memberi isyarat kepada pengemis dengan jarinya yang bercincin dan pengemis itu mendekat kemudian pengemis itu mengambil cincin tersebut.

Tentu saja tidak ada yang mengatakan kalau pengemis itu langsung meminta kepada orang yang shalat. Pengemis itu mendekat ketika Imam Ali sendiri berisyarat. Bukankah memberi isyarat dalam shalat adalah hal yang dibolehkan. Seandainya juga pengemis itu langsung meminta kepada Imam Ali yang ketika itu sedang shalat apakah lantas dikatakan tidak beradab lalu bagaimana dengan Jabir bin Abdullah yang berbicara dua kali kepada Nabi SAW yang ketika itu sedang shalat atau Ibnu Umar yang memberi salam kepada Nabi SAW ketika Beliau SAW sedang shalat. Apakah Nabi SAW selanjutnya melarang mereka Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar? Tidak kok(lihat saja hadis yang saya kutip di atas). Yang perlu ditambahkan adalah Ayat Al Wilayah ini juga dimasukkan oleh ahli tafsir Sunni Abu Bakar Al Jashshash dalam kitabnya Tafsir Ahkam Al Quran sebagai dasar bahwa sedikit gerakan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan sedekah sunah dapat dinamai zakat.

Kata-kata beliau

Syi’ah juga menyebutkan bahwa bersedekah ketika ruku’ dalam sholat itu tidak mengurangi posisi Amirul Mukminin (Ali), bahkan tindakan itu diikuti para imam sesudahnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata-kata ini tetapi penulis menanggapi dengan

Di sini timbul pertanyaan, “Jika tindakan ini merupakan cermin keutamaan penghulu para Imam (Ali r.a) yang diikuti oleh para imam, lalu mengapa tindakan ini tidak dilakukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW? Juga tidak dilakukan oleh para sahabat yang lain?

Jawab saya: apakah setiap keutamaan seseorang itu harus diikuti oleh orang lain, bukankah setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Apakah seandainya suatu keutamaan tidak diikuti oleh beberapa orang maka gugurlah keutamaan itu?. Bukankah banyak keutamaan Imam Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.

Mengenai tafsir Al Maidah ayat 55 yang beliau jelaskan adalah penafsiran yang menyesuaikan dengan urutan ayat. Tafsir yang beliau kemukakan itu sama dengan tafsir ayat tersebut dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. Pendapat saya tentang tafsir ini boleh-boleh saja. Tidak ada masalah, justru yang jadi masalah jika kita mengabaikan banyak hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat ini.

Ayat Al Mubahalah:

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61)

Beliau penulis menyebutkan

Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib

Dalam hal ini saya sependapat dengan pernyataan di atas berdasarkan hadis Shahih Muslim Kitab Keutamaan para sahabat, Bab Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib no: 2404
diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqas bahwa Tatkala diturunkan ayat: Maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu……(‘Ali Imran 3:61), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain lalu berdoa: “Ya Allah! Merekalah ahli keluarga Aku.”

Kemudian penulis berkata

Apakah dengan penggunaan kata ‘diri kami’ yang mengacu kepada Ali r.a berarti Rasulullah SAW menyamakan dirinya dengan Ali r.a ?

Adalah jelas bahwa diri Ali ra berbeda dengan diri Rasulullah SAW oleh karenanya penggunaan kata itu lebih bersifat kiasan betapa dekatnya Rasulullah SAW dan Ali ra ketimbang diartikan secara harfiah. Sama halnya dengan hadis Ali bagian dariKu dan Aku bagian dari Ali atau Husain bagian dariKu dan Aku bagian dari Husain.

Penulis juga mengutip Ibnu Taimiyyah yang berkata

bahwa Kata-kata DIRI dalam ayat-ayat tersebut maksudnya adalah saudara dalam nasab atau saudara dalam agama. Ibnu Taimiyyah menyandarkan pendapatnya itu pada Al Quranul Karim.

Mari kita lihat “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap DIRI MEREKA SENDIRI, dan berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Q.S.An-Nur 12). Ayat ini berkaitan dengan peristiwa fitnah terhadap Aisyah ra dan salah seorang sahabat Nabi. Diri mereka dalam ayat ini memang merujuk pada arti saudara seagama. FirmanNya juga : “..dan bunuhlah DIRIMU..” (Q.S.Al-Baqarah 54). Ayat ini ditujukan pada bani Israil dan dirimu pada ayat ini bisa merujuk pada diri tiap orang dari bani Israil atau sesama mereka yang berarti saudara satu kaum. Dan firmanNya : “Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu : kamu tidak akan menumpahkan darahmu , dan kamu tidak akan mengusir DIRIMU dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar sedang kamu mempersaksikannya.” (Q.S.Al-Baqarah 84). Dalam Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kata dirimu ini merujuk pada saudara satu kaum atau saudara sebangsa. Jadi seharusnya Ibnu Taimiyyah berkata dirimu dalam ayat-ayat(yang dia sebutkan) berarti saudara satu kaum atau sebangsa dan saudara seagama. Tidak ada keterangan tentang saudara senasab.

Apakah benar arti dirimu pada ayat Mubahalah merujuk pada saudara satu kaum atau saudara seagama? Jawaban saya, ketika ditujukan kepada Bani Najran maka dirimu dalam ayat ini bisa berarti diri tiap orang dari Bani Najran atau saudara sekaum dan seagama dengan mereka. Tapi bagi Rasulullah SAW dirimu ini diartikan Rasulullah SAW merujuk pada Beliau SAW sendiri dan Ali bin Abi Thalib ra karena nash yang shahih berkata demikian(lihat hadis Shahih Muslim di atas). Seandainya diri kamu bagi Rasulullah SAW diartikan kepada saudara sebangsa atau seagama maka adalah jelas bahwa Rasulullah SAW akan mengajak para Sahabat yang lain beserta anak dan isteri mereka, tetapi sayangnya tidak ada dalil yang menyatakan demikian. Seperti yang dikatakan penulis kebanyakan ahli tafsir Sunni menyatakan ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW menyeru Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Saudara Ja’far kemudian berkata

Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein bermuhabalah dengan ahlul kitab Nasrani tsb karena merekalah yang terdekat bagi Rasulullah SAW. Serupa dengan hadis penyelimutan Nabi SAW kepada mereka bukan kepada istri-istrinya Nabi SAW yang menunjukkan bahwa mereka lebih dekat kepada Rasulullah SAW dari pada istri-istri Nabi SAW.

Saya sependapat dengan hal ini dan perlu ditambahkan masalah penyelimutan itu, mengapa Nabi SAW menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain karena mereka lah yang dituju dalam ayat tersebut, dan kenapa Nabi SAW tidak menyelimuti istri-istri Beliau SAW karena mereka memang tidak dituju dalam ayat tersebut. Hal ini berbeda dengan pendapat penulis yang berkata

Akan tetapi, dengan tidak dilakukannya penyelimutan kepada istri-istri Nabi SAW bukanlah menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul bait. Penjelasan hal ini lihat tulisan saya tentang Q.S.Al-Ahzab ayat 33.

Saya juga telah menanggapi tulisan beliau saudara Ja’far tentang ahlul bait dalam Al Ahzab ayat 33.

Kembali ke ayat Mubahalah penulis berkata

Ayat ini tidaklah dapat dijadikan pedoman bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini hanyalah menunjukkan keutamaan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dimana mereka adalah ahlul bait nabi SAW yang termulia dan paling dekat dengan Nabi SAW.

Jawaban saya benar sekali ayat ini tidak menjadi hujjah yang nyata bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait as adalah yang termulia setelah Rasulullah SAW. Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain.

Ayat Tabligh:

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67)

Berkenaan dengan ayat ini penulis berkata

Ayat ini dinamakan Syi’ah sebagai ayat tabligh, karena menurut Syi’ah dengan ayat ini Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan hal yang sangat penting bagi umat islam yaitu penunjukkan dan pengangkatan Ali r.a sebagai pengganti beliau. Peristiwa pengangkatan ini menurut syi’ah terjadi di Ghadir Kum sepulang dari haji Wada’ tanggal 18 Dzulhijjah.

Pernyataan ini memang cukup banyak ditemukan dalam literatur hadis Syiah dari para Imam Ahlul Bait as.

Kemudian mengenai literatur dalam sumber Sunni, Ulama Syiah cenderung menyatakan bahwa pendapat ini juga pendapat kebanyakan ahli tafsir Sunni. Hal ini yang dibantah oleh Penulis tersebut dalam menanggapi Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin an-Antaki, seorang bekas Qadhi Besar Mazhab Syafi’i di Halab, Syria, seorang yang masuk syi’ah dalam karyanya Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait) . Dalam buku itu Syaikh Mar’i Al Amin berkata “Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah.” lalu tulisnya lagi “…Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahwa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah”.

Sang penulis benar-benar tidak setuju dengan pernyataan ini sehingga dia berkata

Benarkah bahwa hadis Al-Ghadir adalah mutawatir? Semua ahli tafsir Sunnah sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali r.a di Ghadir Kum? Sungguh kebohongan yang amat besar !.

Jawaban saya Hadis Al Ghadir benar mutawatir, dan memang semua ahli tafsir sunnah tidak sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali ra di Ghadir Kum. Yang benar adalah memang ada riwayat tentang turunnya ayat ini untuk Imam Ali di dalam literatur Sunni yaitu dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim dalam tafsir Al Maidah ayat 67, Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul Al Maidah ayat 67 dan Tarikh Ibnu Asakir dalam bab biografi Ali bin Abi Thalib.Yang kesemuanya berpangkal dari sanad Ali bin Abas dari Amasy dari Athiyah dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Diturunkan ayat ini: “Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” [al-Maidah 5:67] ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan ‘Ali bin Abi Thalib.
Sanad hadis ini diperselisihkan oleh ulama sunni dan syiah. Kebanyakan ahli hadis Sunni menyatakan riwayat ini dhaif karena pada sanadnya terdapat Athiyah bin Sa’ad al Junadah Al Aufi. Dalam Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79 didapat keterangan tentang Athiyah

• Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah seorang tabiin yang dikenal dhaif
• Abu Hatim berkata hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis
• An Nasai juga menyatakan Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif
• Abu Zara’ah juga memandangnya lemah.
• Menurut Abu Dawud Athiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan.
• Menurut Al Saji hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain.
• Salim Al Muradi menyatakan bahwa Athiyyah adalah seorang syiah.
• Abu Ahmad bin Adiy berkata walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis.

Oleh karena itu tidak berlebihan kalau ahli hadis sunni menyatakan hadis tersebut dhaif. Tetapi ulama syiah menolak hal ini dengan menyatakan bahwa Athiyyah adalah perawi yang dipercaya di sisi Syiah bahkan ada ulama Sunni yang menta’dilkan beliau.

• Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” Selain itu dalam Mizan Al ‘Itidal ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah ,ia menjawab “Bagus”.
• Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 dan Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79, Ibnu Saad memandang Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.
• Sibt Ibnul Jauzi(cucu Ibnu Jauzi) dalam kitabnya Tadzkhiratul Khawass memandangnya sebagai perawi yang bisa dipercaya.
• Athiyyah bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, perawi dalam Sunan Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Sebenarnya juga tidak berlebihan kalau Ulama Syiah memandang Athiyyah sebagai perawi yang tsiqat apalagi dalam literatur mereka Athiyyah memang perawi syiah yang tsiqat. Oleh karena itu ulama syiah menolak pernyataan dhaif kepada Athiyyah, mereka berkata itu hanyalah kecenderungan Sunni untuk mendhaifkan perawi yang bermahzab syiah. Mengapa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh sebagian kalangan?dan mengapa riwayatnya tidak diterima oleh sebagian Ulama Sunni, Jawabannya karena

• Athiyyah adalah perawi yang bermahzab syiah dan mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Dan biasanya riwayat seorang perawi Syiah tentang mahzabnya ditolak oleh Ulama Sunni
• Athiyyah dipandang dhaif karena sifat tadlis. Dalam Tahdzib at Tahzib dan Mizan Al ‘Itidal, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata “Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya ,Agar dianggap Abu said Al Khudri.”. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban “Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal ,ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu?maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi”.

Sayangnya kedua alasan ini tidak diterima oleh Ulama Syiah, tentang alasan pertama mereka berkata itu sangat subjektif bukankah tidak ada salahnya kalau perawi tersebut meyakini apa yang ia riwayatkan. Singkatnya seperti ini Ulama Sunni jelas dari awal menganggap Syiah itu ahlul bid’ah oleh karenanya riwayat yang mendukung mahzab syiah mesti ditolak, menurut Ulama Sunni perawi syiah jelas sekali akan membuat riwayat yang mendukung mahzab mereka. Sedangkan ulama Syiah jelas tidak terima dinyatakan seperti itu makanya mereka bilang ulama sunni subjektif. Bukankah juga mungkin karena meyakini riwayat(yang katanya mendukung mahzab syiah) maka perawi itu lantas berpegang pada mahzab Syiah.

Alasan yang kedua juga tidak mematikan hujjah ulama Syiah karena mereka dapat berkata apa buktinya pernyataan Ahmad dan Ibnu Hibban itu benar, bukankah bisa saja itu hanya sekedar kabar-kabar yang disebarkan untuk mendiskreditkan Athiyyah, Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al’Asqalani telah berkata,
Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”

Ada sebuah kemungkinan bahwa Athiyyah adalah orang yang dikenal tsiqat pada saat itu tetapi mungkin karena sikap terang-terangannya dalam memuliakan Imam Ali di atas sahabat yang lain sampai-sampai mengundang kecurigaan dari bani Umayyah. Oleh karenanya mungkin untuk menjatuhkan beliau disebarkanlah kabar-kabar yang mendiskreditkan beliau. Sayangnya ini adalah sebuah kemungkinan dan belum bisa dibuktikan. Baik Ulama Sunni dan Ulama Syiah dipengaruhi kecenderungan masing-masing dalam melihat pribadi Athiyyah.

Lantas mengapa Ulama Syiah berkeras bahwa riwayat turunnya ayat Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 berkenaan peristiwa Al Ghadir adalah mutawatir di sisi Sunni? Jawabannya adalah mereka Ulama Syiah ketika menyebut riwayat turunnya Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 sering merujuk ke kitab-kitab yang seringkali sulit dirujuk oleh Ulama Sunni seperti kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir Ath Thabari. Kitab ini dibuat Ath Thabari pada akhir-akhir hidupnya dan sayangnya sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi. Yang ada hanyalah kitab-kitab yang memuat kutipan dari kitab Ath Thabari tersebut. Memang kitab-kitab yang mengutip kitab Ath Thabari itu kebanyakan adalah kitab-kitab Ulama Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena Ulama Syiah punya kecenderungan kuat untuk memelihara riwayat-riwayat Al Ghadir sebagai hujjah mereka terhadap Sunni.

Sayangnya kitab Ath Thabari ini sudah tidak ada lagi disisi Sunni, entahlah apa sebabnya kitab ini bisa tidak terpelihara di sisi Sunni. Oleh karenanya ketika Ulama Syiah berhujjah dengan riwayat dalam kitab ini maka Ulama Sunni sekarang mentah-mentah menolaknya. Lucunya mereka Ulama Sunni berkata bahwa itu hanyalah buatan-buatan Syiah saja, atau ada yang menuduh Ath Thabari itu Syiah dan yang berlebihan menuduh kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir itu dibuat oleh Syiah dan mengatasnamakan Ath Thabari. Padahal terdapat bukti yang jelas bahwa kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir adalah benar-benar eksis dulunya dan merupakan hasil karya Ibnu Jarir Ath Thabari yang Sunni.

Penolakan terhadap kitab Ath Thabari ini juga didasari bahwa dalam Tafsir Ath Thabari tentang Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3, beliau Ath Thabari tidak menyebut sedikitpun tentang peristiwa Al Ghadir. Sayangnya hal ini bukanlah dasar yang kuat untuk menolak kitab Al Wilayah Ath Thabari. Karena seperti yang sudah saya sebutkan kitab Al Wilayah ini dibuat pada akhir-akhir kehidupan Ath Thabari artinya jauh selepas beliau mengarang Tafsir Ath Thabari. Jadi ada kemungkinan beliau merubah pandangannya atau bisa jadi lingkungan kemahzaban yang kental di masa Ath Thabari tidak memungkinkannya untuk memasukkan riwayat Al Ghadir dalam Tafsir Beliau. Tapi sayangnya ini hanyalah sebuah kemungkinan dan memerlukan pembuktian.

Bagi saya pribadi hujjah tidak bisa berdasarkan kemungkinan oleh karenanya saya lebih berdiam diri dalam masalah ini dan mungkin lebih baik untuk tidak menerima riwayat tentang ayat tabligh ini karena masih ada keraguan dalam sanadnya. Jadi memang pernyataan Syaikh Mar’i Al Amin itu keliru, ahli tafsir Sunni tidak bersepakat tentang turunnya ayat tabligh untuk Imam Ali.

Walaupun begitu rupanya si penulis melihat kekeliruan Syaikh Mar’i Al Amin ini sebagai kebohongan besar. Entahlah, bagi saya ini adalah kecenderungan kemahzaban saja, sama halnya dengan yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah yang membuat banyak kekeliruan karena berlebih-lebihan dalam membantah Ulama Syiah Ibnul Muthhahhar(Allamah Al Hilli). Keinginan Ibnu Taimiyyah untuk terus membantah itu membuatnya banyak menolak hadis-hadis shahih seperti hadis Tsaqalain, dengan mengatakan banyak yang menolak hadis tsaqalain padahal kenyataannya tidak demikian.

Mari kita lanjutkan, kemudian penulis juga menjadi berlebih-lebihan ketika berkata

Mana mungkin tulisan tsb berasal dari seorang yang banyak mempelajari agama (seorang Qadhi Besar) kecuali tulisan tsb berasal dari ulama syi’ah sendiri. Benarkah buku tsb berasal dari seorang yang keluar dari Mahzab Syafi’i lalu masuk Syi’ah? Jangan-jangan buku tsb dibuat oleh orang syi’ah sendiri dan mengatasnamakannya dari seorang AhluSunnah.

Sayangnya bukti kuat dalam masalah ini adalah buku itu sendiri. Dalam Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait), pengarang syaikh Mar’i Al Amin sendiri mengatakan bahwa beliau awalnya Qadhi Halab bermahzab syafii yang kemudian masuk Syiah. Tentu saja kesaksian ini lebih patut dipercaya ketimbang dugaan-dugaan tanpa bukti. Anehnya sepertinya penulis itu adem ayem saja menerima kabar bahwa Ayatullah Uzma Al Burqu’i adalah ulama Syiah yang keluar dari mahzab syiah yang ia kutip dari Gen Syiah Ustad Mamduh Al Buhairi.

Kemudian sang penulis menganalogikan dugaannya dengan dugaan lain yang sama tak berdasarnya

Seperti halnya buku Al-Muraja’at, dialog Sunni-Syi’ah antara Syaikh Al-Azhar Salim Al-Bisyri dengan seorang syi’ah yaitu Syarafuddin Al-Musawi. Kitab Al-Muraja’at diterbitkan 20 tahun setelah Syekh Salim Al-Bisyri meninggal. DR.Ali Ahmad As-Salus, ulama AhluSunnah dari Qatar pakar aliran Syi’ah bertemu dengan putra Syekh Salim Al-Bisyri dan putranya tersebut berkata, “Saya telah membaca (mempelajari) hadis dari ayahku selama 30 tahun dan beliau tidak sedikitpun menyebutkan tentang Syi’ah kepadaku. Beliau juga tidak pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.”

Ada kepincangan dalam cara berpikir penulis, Beliau meragukan kitab Al Muraja’at sebagai buat-buatan saja oleh Syaikh Al Musawi singkatnya dialog dalam buku itu fiktif Padahal buku itu sendiri menjelaskan tentang terjadinya dialog tersebut. Tidak masalah dengan diterbitkannya buku itu 20 tahun kemudian. Hal ini juga diakui terang-terangan oleh Syaikh Al Musawi dalam buku itu dimana beliau menjelaskan karena sesuatu hal maka buku ini baru bisa diterbitkan. Pincangnya adalah penulis itu dengan mudahnya mempercayai apa yang dikatakan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah yang berhujjah dengan perkataan anaknya Syaikh Salim Al Bisyri yang tidak jelas siapa namanya, kapan ia mengatakan itu, dimana, dan siapa saksinya. Bukankah kalau memang benar begitu si anak tersebut lebih berhak untuk membersihkan nama ayahnya dari tuduhan, sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan karya yang membantah Al Muraja’at oleh anak tersebut. Lagipula apakah pernyataan anak tersebut adalah hujjah mati bahwa dialog dalam buku itu fiktif. Bukankah bisa saja sang Ayah merahasiakan dialog tersebut dari anaknya. Dugaan-dugaan tidak bisa dijadikan dasar dalam berhujjah karena hanya melahirkan suatu kemungkinan tetapi tidak mengabaikan kemungkinan yang lain.

Saya tunjukkan sedikit kekeliruan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah, beliau Ali As Salus telah membuat dugaan bahwa kitab Al Wilayat Fi Thuruq Al Ghadir yang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari adalah bukan dikarang oleh Ath Thabari yang sunni melainkan oleh Ath Thabari yang syiah. Dugaan ini jelas tidak berdasar sama sekali. Pernyataannya ini jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wa An Nihayah yang menjelaskan bahwa kitab itu memang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari yang sunni. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Adz Dzahabi dalam Tadzkirat Al Huffaz, Adz Dzahabi menulis bahwa ” ketika Al Thabari mendengar bahwa Ibnu Abi Dawud menolak keotentikan hadis Al Ghadir, beliau menulis buku mengenai keotentikannya dan keutamaan Ahlul Bait” kemudian Adz Dzahabi menambahkan bahwa dia sendiri melihat satu jilid karya Ath Thabari tentang Thuruq Hadis Al Ghadir dan dibuat kagum oleh besarnya jumlah periwayatnya. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap dugaan memerlukan bukti agar bisa dipercaya. Tapi sayangnya ada banyak orang yang lebih mudah mempercayai dugaan karena dipengaruhi kecenderungannya.

Hadis Al Ghadir

Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya

• Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir
• Ibnu Uqdah dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Hadits Al Ghadir
• Abu Bakar Al Ja’abi dalam kitabnya Man Rawa Hadits Ghadir Kum
• Abu Sa’id As Sijistani dalam kitabnya Ad Dirayah Fi Hadits Al Wilayah

Walaupun begitu perlu diperhatikan mutawatir disini adalah mutawatir ma’nawi Artinya hadis-hadis tersebut memiliki matan yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi

• Matan yang Mutawatir, Artinya matan ini ada dalam setiap hadis Al Ghadir apapun sanadnya, matan itu adalah perkataan Rasulullah SAW di Ghadir Kum “barang siapa menganggap Aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya”. Oleh karenanya perkataan ini bisa dikatakan bersifat pasti kebenarannya karena sanadnya mutawatir.
• Matan yang shahih, artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis-hadis Al Ghadir tetapi tidak semua hadis Al Ghadir meriwayatkan matan ini. Adapun hadis yang mengandung matan ini sanadnya shahih. Yaitu antara lain matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW bahwa Sebentar lagi Rasulullah SAW akan dipanggil ke hadirat Allah SWT. Atau matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW kepada umatnya untuk berpegang kepada dua hal Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, matan yang mengandung peristiwa kesaksian di Rahbah oleh beberapa sahabat terhadap Imam Ali, matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW ”bukankah Kalian telah mengetahui bahwa sesungguhnya Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri?” dan Matan yang mengandung ucapan selamat Umar kepada Ali(matan selamat ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4 hal 281 dalam sanadnya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi, tentang beliau Abu Hatim berkata hadisnya mungkar tapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat, Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadis dalam Sunan Tirmidzi no3 786 dan dalam sanadnya ada Zaid bin Hasan, oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hadis dalam Musnad Ahmad itu shahih.)
• Matan yang diperselisihkan sanadnya atau dhaif(menurut Ulama Sunni), artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis Al Ghadir dimana sanad hadisnya adalah dhaif di sisi Ulama Sunni. Yaitu matan hadis Al Ghadir yang mengandung Ayat Tabligh Al Maidah 67 dan Al Maidah ayat 3.

Mari kita lihat kembali pernyataan penulis(Ja’far) seputar hadis Al Ghadir, beliau mengutip pernyataan Al Alusi

Adapun pada saat khutbah Rasulullah sepulang dari haji wada’ tersebut tidak didapati hadis yang shahih mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah / pemimpin / menjadikannya maula. Al-Alusi berkata, “Riwayat-riwayat tentang Ghadir Khum – yang di dalamnya terdapat perintah kepada Nabi SAW untuk mengangkat Ali sebagai khalifah – tidak shahih dan sama sekali tidak diterima oleh AhluSunnah” (Tafsir Al-Alusi).

Jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan perkataan maula itu, maka dalam hal ini Al Alusi keliru karena pengangkatan Ali sebagai maula di Ghadir Kum telah dishahihkan banyak ulama Ahlus Sunnah seperti At Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Tentu Ulama syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin, sedangkan ulama sunni menafsirkan maula sebagai sahabat atau yang dicintai.

Tetapi jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan turunnya Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3 maka saya sependapat. Karena hadis tentang itu terdapat keraguan pada sanadnya dan saya setuju dengan pernyataan penulis bahwa Al Maidah ayat 3 berdasarkan dalil shahih disisi Sunni turun di arafah.

Penulis(Ja’far) mengkritik hadis Al Ghadir yang mengandung matan maula dengan berkata

Masih ada beberapa hadis lain yang serupa dua hadis diatas dalam Musnad Imam Ahmad. Kata-kata ‘Man kuntu MAULAH fa’aliyyun maulah’ (Siapa yang aku sebagai PEMIMPINNYA maka Ali sebagai PEMIMPINNYA) tidak dapat dijadikan dalil bahwa Ali adalah khalifah setelah rasulullah SAW wafat.

Mari kita telaah masing-masing alasannya

Alasan pertama Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis tsb adalah AhluSunnah. Jika Imam Ahmad menafsirkan hadis tsb sebagai dalil yang menjadikan Ali sebagai khalifah/imam setelah rasulullah wafat maka dia seharusnya menjadi ulama syi’ah. Akan tetapi, Imam Ahmad adalah seorang ahlusunnah, dengan begitu Imam Ahmad tidak menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali sebagai pengganti Rasullah SAW.

Alasan ini rancu sekali dan bagi saya orang yang memakai alasan seperti ini tidak perlu jauh-jauh menggunakan dalil dan pembahasan dalam mengkritik Syiah, dia cukup berkata seandainya Syiah itu benar maka Ulama-ulama sunni akan menjadi Syiah tetapi kenyataannya tidak maka Syiah tidak benar. Nah selesai urusannya. Kalau ingin melakukan pembahasan maka harus melihat dalil itu sendiri dan menilai penafsiran mana yang benar antara Ulama Sunni dan Syiah. Dalam hal ini Penulis telah melakukan Fallacy Argumentum Ad Verecundiam.

Alasan kedua Pengartian kata ‘maulah’ dalam konteks hadis tsb sebagai ‘pemimpin’ tidak tepat. Maulah dalam hadis tsb berarti loyalitas atau kecintaan, sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’.

Mari kita telaah, si penulis berargumen bahwa berdasarkan konteksnya maula itu bukan berarti pemimpin. Anehnya beliau malah mengartikan maula berdasar akar kata. Ulama Syiah berkata Maula adalah lafal Musytakarah(punya banyak arti) dan untuk mengetahui arti yang tepat adalah dengan melihat konteksnya pada hadis Al Ghadir.

Mari kita lihat apa kata Ulama Syiah tentang makna maula. Dalam Hadis Al Ghadir terdapat kata-kata Rasulullah SAW bahwa beliau sebentar lagi akan dipanggil ke hadirat Allah ” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh.
Bukankah kata-kata ini berarti Rasulullah SAW telah mewasiatkan sebelum beliau meninggal untuk mengikuti Al Quran dan Ahlul Bait, adalah wajar kalau hal ini diartikan Ulama Syiah sebagai Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan Agama kepada Ahlul Bait.

Kemudian kata-kata “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya. Ulama Syiah menafsirkan kata lebih berhak menunjukkan bahwa maula yang dimaksud berkaitan dengan kekuasaan dan tidak tepat jika diartikan sahabat atau dicintai. Selain itu kata-kata terakhir Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. Menunjukkan bahwa pada saat itu Imam Ali dianugerahkan tanggung jawab yang memungkinkan beliau dicintai atau dimusuhi orang, tanggung jawab ini lebih tepat diartikan kekuasaan ketimbang yang dicintai.

Oleh karena itu Ulama Syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin ditambah lagi ucapan selamat Umar kepada Ali yang menurut Syiah janggal diberikan hanya karena Ali dinobatkan sebagai yang dicintai, Ulama syiah berkata apakah sebelumnya Imam Ali adalah musuh sehingga ketika dinobatkan sebagai yang dicintai maka beliau diberi selamat.

Sedangkan kata-kata penulis

Seandainya maulah diartikan sebagai imam / khalifah maka seharusnya para sahabat tidak menjadikan Abu Bakar r.a sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW. Mana mungkin mayoritas sahabat mengkhianati Rasulullah SAW. Para sahabat tidak pernah menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali. Kalau kita menganggap hadis tsb sbg dalil penunjukkan Ali maka otomatis para sahabat adalah orang yang tidak melaksanakan amanat Rasulullah SAW

maka saya katakan itulah tepatnya kenapa Ulama Sunni berkeras bahwa kata maula itu bukan pemimpin. Disini penulis sudah memahami dengan prakonsepsinya terlebih dahulu tentang shahabat baru menilai nash hadis Al Ghadir bedanya dengan Syiah mereka memahami nash hadis Al Ghadir terlebih dahulu baru menilai shahabat.

Mengenai hadis tentang murtadnya shahabat Nabi kecuali beberapa orang di sisi Syiah, maka saya memilih untuk berdiam diri karena saya tidak mengetahui shahih tidaknya hadis tersebut di sisi Syiah dan apa arti murtad yang dimaksud. Karena yang saya tahu ada cukup banyak Sahabat Nabi yang diakui oleh Syiah bukan hanya beberapa orang, Silakan dirujuk pada Ikhtilaf Sunnah Syiah karya Syaikh Al Musawi hal 205-214. Saya juga ingin mengingatkan penulis bahwa di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadis yang jika diartikan secara literal mengindikasikan cukup banyak shahabat Nabi yang masuk neraka karena berpaling setelah Nabi SAW wafat.

Contohnya hadis Shahih Bukhari juz 8 hal 150 diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”. Tentu Ulama Sunni memiliki pemahaman sendiri terhadap hadis ini dengan berkata bahwa memang ada yang murtad dan yang murtad itu tidak lagi disebut sebagai shahabat. Yang ingin saya tekankan kalau Ulama Sunni bisa melakukan penafsiran terhadap teks mereka. Kenapa kita tidak bisa mendengar apa kata Ulama Syiah tentang hadis mereka.

Alasan yang ketiga Hadis-hadis tsb lebih tepatnya menceritakan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib bukan dalil tentang penunjukkannya.

Saya setuju kalau hadis itu menunjukkan keutamaan tapi keutamaan sebagai apa, nah disinilah terjadi beda penafsiran. Syiah justru berkata itulah keutamaan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Hadis Kekhalifahan Di Sisi Sunni

Mengenai hadis-hadis tentang Rasulullah tidak menunjuk khalifah itu memang ada dasarnya di sisi Sunni dan sanadnya shahih. Penulis(Ja’far) juga menambahkan bahwa Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada Abu Bakar, Umar dan Ali(Ali tidak dipilih maka tinggal Abu Bakar dan Umar). Kemudian penulis melanjutkan Walaupun Rasulullah SAW memberikan tiga pilihan orang yang akan menggantikan beliau, beliau menganjurkan umat agar memilih Abu Bakar. Mari kita bersikap kritis terhadap pernyataan saudara Ja’far, apa benar Rasulullah SAW menganjurkan umatnya?

Kalau memang begitu kenapa ketika peristiwa Saqifah kaum Anshar ribut-ribut tentang pengganti Rasulullah SAW, bukankah sebagian mereka memilih Saad bin Ubadah ra sebelum Abu Bakar ra dan Umar ra datang. Kenapa hadis ini tidak muncul sedikitpun dalam peristiwa Saqifah. Hadis Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sungguh saya berhasrat atau ingin mengirimkan surat kepada Abu Bakar dan putranya lalu saya mengangkatnya sebagai khalifah. Sebab (aku khawatir) jika ada seseorang yang mengatakan atau orang yang mempunyai harapan.”. Apakah surat ini memang dibuat atau tidak juga tidak jelas, kalau tidak kenapa Rasulullah SAW mengurungkannya.

Sama juga halnya dengan hadis ‘Panggilah Abu Bakar dan saudaramu untuk datang kepadaku agar aku tuliskan sesuatu kepadanya. Sebab sesungguhnya saya khawatir jika ada orang yang berharap dan terdapat seseorang yang mengatakan, ‘Aku lebih berhak.’ Dan Allah dan orang-orang yang beriman tidak menghendaki kecuali Abu Bakar.”. Apakah tulisan itu jadi dibuat, kenapa tidak, kenapa Rasulullah SAWmengurungkan niatnya? Sekali lagi kenapa hadis ini tidak muncul ketika peristiwa Saqifah. Seandainya Rasulullah SAW benar menganjurkan Abu Bakar kepada umatnya maka adalah aneh jika pada awalnya para shahabat Anshar itu ribut-ribut di Saqifah.

Penulis juga berkata Ali bin Thalib r.a juga tidak pernah terpaksa untuk berba’iat kepada Abu Bakar r.a dengan alasan persatuan umat islam. Anehnya beliau hanya mengutip hadis baiat Imam Ali kepada Abu Bakar tanpa memperhatikan hadis lain yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari Kitab AlMaghazi Bab Ghazwah Khaibar 3 hal 38 yang diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Imam Ali tidak mau memberikan Baiat kepada Abu Bakar selama hidup Fatimah putri Nabi SAW. Jadi pernyataan ini tidak hanya diriwayatkan oleh Az Zuhri seperti yang dikatakan penulis. Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah ra dalam Shahih Bukhari.

Penundaan baiat Imam Ali adalah hal yang mahsyur dalam sejarah. Memang terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini, ada yang berpendapat bahwa Imam Ali berbaiat dua kali dan ada yang berpendapat justru yang benar Imam Ali berbaiat setelah 6 bulan. Dalam Usdu Al Ghabah jilid 3 hal 222 Ibnu Hajar mengatakan ”Baiat yang mereka(Ali dan para pendukungnya) berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan. Dalam Musnad Ahmad tentang hadis Saqifah yang menjelaskan pidato Umar tentang peristiwa Saqifah(shahih oleh syaikh Ahmad Syakir) terdapat kata-kata Umar bahwa ketika Abu Bakar di baiat Ali dan Zubair memisahkan diri dari Kami. Setidaknya itu semua menunjukkan ada penundaan baiat Imam Ali kepada Abu Bakar ra.

Paling tidak ada beberapa alasan yang memberatkan pernyataan penulis bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memilih Abu Bakar ra

• Kaum Anshar di Saqifah berselisih paham tentang pengganti Nabi SAW di Saqifah sebelum kedatangan Abu Bakar ra dan Umar ra. Sebagian mereka malah memilih Saad bin Ubadah ra.
• Imam Ali ra dan beberapa sahabat Nabi menunda pembaiatan kepada Abu Bakar ra.
• Sayyidah Fatimah Az Zahra as berselisih dengan Abu Bakar ra dalam masalah Fadak. Berdasarkan dalil yang shahih(Shahih Bukhari) Sayyidah Fatimah as marah kepada Abu Bakar ra selama 6 bulan yang waktu itu sudah diangkat sebagai khalifah. Ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah as tidak membaiat Abu Bakar ra.

Hadis 12 Khalifah

Saudara Ja’far juga membahas hadis 12 khalifah dalam tulisannya

dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah. (H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”).

Kemudian penulis menambahkan dalam Catatan :

Dalam berbicara masalah khalifah atau pemimpin maka Rasulullah SAw jelas menggunakan kata ‘khalifah’ atau ‘Amri’ sebagaimana yang bisa dilihat pada hadis diatas, bukan kata ‘Maulah’. Hadis ini bisa dijadikan tambahan argumentasi bahwa hadis ‘Man kuntu maulah fa’aliyyun maulah’ bukanlah berbicara tentang pemimpin / khalifah. Maulah dalam hadis tsb tidak diartikan sebagai imam atau khalifah.

Jawab saya ;Sebenarnya justru bisa saja itu berarti dalam masalah kekhalifahan Rasulullah SAW bisa menggunakan kata Khalifah, Amir, Wali atau Maula.

Penulis(Ja’far) menyatakan bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa khalifah yang dimaksud adalah 12 Imam AhlulBait. Alasannya yang pertama bahwa

Dalam hadis tersebut tidak ada tercantum khalifah dari Ahlul Bayt, yang ada adalah khalifah dari Quraisy.

Jawab saya :Benar sekali dan Ahlul Bait adalah dari Quraisy, lengkapnya seperti ini Bani Hasyim adalah yang termulia dari suku Quraisy dan Ahlul Bait adalah yang termulia dari Bani Hasyim. Tidak berlebihan kalau dikatakan Ahlul Bait semulia-mulia dari Quraisy . Dalam Hadis Shahih Muslim Kitab keutamaan, Bab keutamaan nasab Nabi no: 2276 diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya Allah telah memilih (suku) Kinanah daripada anak keturunan Ismail dan telah memilih (bangsa) Quraisy daripada (suku) Kinanah, dan telah memilih daripada (bangsa) Quraisy Bani Hasyim dan telah memilih aku daripada Bani Hasyim.

Alasan kedua penulis

Rasulullah SAW tidak menyebutkan nama-nama siapakah yang menjadi khalifah tersebut.

Sayangnya disisi Syiah(Imamiyah) hadis-hadis tentang ini cukup jelas. Kemudian penulis mengartikan hadis itu

sebagai Hadis ini menunjukkan masa kejayaan islam ketika dipimpin dua belas khalifah tersebut. Lantas siapakah dua belas orang tersebut? Kita hanyalah bisa menebak-nebak. Kita bisa menebaknya sebagian dengan melihat sejarah Islam pada khalifah mana islam berjaya. Misalnya: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Umar bin Abdul Aziz dan lain-lain dengan syarat ketika mereka menjadi khalifah islam berjaya. Khalifah ini juga tidak terbatas pada masa kekhalifahan islam yang ada dulu, tetapi berlaku juga ketika khilafah islamiyah akan tegak kembali. Siapapun yang menjadi khalifah baik dulu maupun yang akan datang sampai hitungannya ada dua belas dimana Islam berjaya pada masa mereka menjadi khalifah maka merekalah dua belas orang yang disebut oleh Nabi SAW tsb. Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang.

Sebagai sebuah penafsiran, yang seperti ini boleh-boleh saja dan perlu ditambahkan Ulama Sunni sendiri berbeda-beda penafsirannya terhadap hadis ini bahkan banyak yang tidak sependapat dengan penafsiran penulis(saudara Ja’far). Saya hanya ingin membahas kata-kata Saudara Ja’far Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kalau khalifah islam yang ada untuk umat Islam itu hanya 12 belas.

Sebelumnya saya ingin menunjukkan sebuah hadis dalam Musnad Ahmad no 3781 diriwayatkan dari Masyruq yang berkata”Kami duduk dengan Abdullah bin Mas’ud mempelajari Al Quran darinya. Seseorang bertanya padanya ‘Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah SAW berapa khalifah yang akan memerintah umat ini?Ibnu Mas’ud menjawab ‘tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW dan Beliau SAW menjawab ‘Dua belas seperti jumlah pemimpin suku Bani Israil’. Dalam Fath Al Bari Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan hadis Ahmad dengan kutipan dari Ibnu Mas’ud ini memiliki sanad yang baik. Hadis ini juga dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad. Merujuk ke hadis di atas ternyata Khalifah untuk umat Islam itu hanya 12 belas. Padahal kenyataannya ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam.

Bagi Ulama Syiah hadis ini merujuk kepada 12 Imam Ahlul Bait sebagai pengganti Rasulullah SAW. Jika kita mengambil premis bahwa ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam atau khalifah yang dimiliki umat Islam maka jelas sekali pemerintahan yang dimaksud bukanlah pemerintahan Islam yang memiliki banyak kahlifah yang terbagi dalam Khulafaur Rasyidin(di sisi Sunni), Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Utsmaniyyah karena mereka semua jauh lebih banyak dari 12. Dari sini dapat dimengerti mengapa Ulama Syiah menyatakan bahwa khalifah yang dimaksud disini adalah 12 khalifah pengganti Rasulullah SAW. Tentu saya pribadi tidak akan menilai penafsiran mana yang lebih baik. Saya hanya ingin menampilkan bahwa penafsiran Ulama Syiah terhadap hadis 12 khalifah ini juga ada dasarnya.

Sayangnya sang penulis justru berkata

Berbeda dengan syi’ah, dimana bagi mereka nama-nama imam tsb telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi manakah hadis yang mengatakan nama-nama khalifah tsb? Hadis yang menunjukkan nama-nama tsb hanyalah hadis dari syi’ah. Hadis itupun bahkan hadis yang palsu/dibuat-buat.

Disini kembali penulis menunjukkan subjektivitasnya, baginya setiap hadis dari syiah adalah palsu dan dibuat-buat, tentu saya tidak akan membuang waktu dengan menanggapi ulang masalah ini.

Adapun bukti yang beliau maksud

Buktinya syi’ah dalam sejarahnya terpecah belah menjadi beberapa firqah karena mereka berselisih siapakah yang akan menjadi imam selanjutnya setelah satu imam meninggal. (Lihat Al-Milal wa Al-Nihal).

Tentu saja kata Syiah disini sedikit ambigu, kalau seandainya dari awal yang kita bicarakan ini Syiah Imamiyah(dan saya rasa memang itu) maka pernyataan penulis itu tidak ada artinya. Mereka yang berpecah belah dari Syiah imamiyah tidaklah lagi disebut Syiah kecuali sebagai sebutan saja. Syiah Zaidiyah dan Syiah Ismailiyah tidaklah disebut Syiah oleh Syiah Imamiyah. Lagipula adanya orang yang menyalahi nash tidaklah berarti nash itu sendiri palsu. Logika darimana itu, bukankah bisa juga sebaliknya berarti orang tersebut telah membangkang atau melanggar nash. Sekali lagi sang penulis menunjukkan subjektivitasnya.

Saya rasa cukup sekian uraian saya, Uraian ini lebih bersifat deskriptif yang disertai analisis terhadap tulisan saudara Ja’far tersebut. Tulisan ini jelas tidak bertujuan menyatakan bahwa Syiah Imamiyah adalah satu-satunya mahzab yang benar. Yang ingin ditekankan dalam tulisan ini bahwa Syiah Imamiyah adalah mahzab Islam yang memiliki dasar dan dalil sebagai mahzab yang diakui dalam Islam.

Salam Damai

Pos ini dipublikasikan di Analisis Hadis, Analisis Sejarah, Resensi Buku, Syiah di indonesia, Tafsir al-Quran dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jawaban Untuk saudara Jafar mengenai Imamah

  1. putra berkata:

    Penjelasan yang mencerahkan, semoga membawa berkah.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s