Kritik kepada Ali as-Salus mengenai Hadis Tsaqalain

1). Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Sunan Tirmidzi

Hadis Tsaqalain dalam Sunan Tirmidzi yang dikritik oleh Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah adalah yang pertama yaitu:
Bercerita kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi dari Zaid bin Hasan Al Anmathi dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin Abdullah, ia berkata’saya melihat Rasulullah SAW pada saat menunaikan ibadah haji pada hari Arafah,Beliau SAW menunggangi untanya al Qashwa dan saya mendengar Beliau SAW berkata”wahai manusia,sesungguhnya Aku meninggalkan sesuatu bagimu yang jika kamu berpedoman kepadanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Itrati Ahlul BaitKu”. (Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 takhrij Syaikh Al Albani)

Hadis ini dinyatakan dhaif oleh Ali As Salus karena dalam perawinya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi al Kufi, beliau berkata:

”tentang Zaid, Abu Hatim berkata”Ia orang Kufah yang datang ke Baghdad dan termasuk mungkar hadis”.

Tanggapan kami adalah Mengenai hadis riwayat Jabir, Imam Tirmidzi telah menyatakan hasan terhadap hadis ini. Syaikh Al Albani pun telah menshahihkan hadis ini dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no3786. Dalam hal ini kami menyatakan bahwa hadis ini shahih karena Walaupun Zaid bin Hasan Al Anmathi Al Kufi dinyatakan hadisnya mungkar oleh Abu Hatim, beliau Zaid telah dikuatkan oleh Ibnu Hibban dan telah dinyatakan tsiqah(dalam Tahzdib at Tahdzib dan Mizan al Itidal). Apalagi kami tidak melihat kemungkaran dalam hadis di atas.

Kemudian hadis kedua Sunan Tirmidzi yang dikritik Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah adalah

Ibnu Mundzir al Kufi bercerita kepada kami, dari Muhammad bin Fudhail dari A’masy dari Athiyah dari Abu Sa’id. Dan dari A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Zaid bin Arqam, keduanya berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan sesuatu bagimu. Jika kamu berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar daripada yang lain;Kitabullah,tali panjang yang terentang dari langit ke bumi dan Ahlul BaitKu.Keduanya tidak akan berpisah sampai datang ke telaga.Maka lihatlah bagaimana kamu melanggar keduanya”.(Shahih Sunan Tirmidzi no 3788 takhrij Syaikh Al Albani).

Sedangkan hadis kedua ini juga dinyatakan dhaif oleh Ali as Salus dengan alasan sebagai berikut. Beliau berkata tentang sanad hadis ini

”Namun, tidak diketahui sanad manakah yang asli. Setelah saya perhatikan empat riwayat dari Athiyyah dari Abu said sebelumnya,maka saya dapatkan kesamaannya dengan riwayat ini dalam segi arti dan susunan katanya. Saya dapat menegaskan bahwa sanad ini adalah yang asli dan yang disebutkan dalam Musnad “.

Ali As Salus menjelaskan bahwa hadis riwayat Tirmidzi ini sanad yang asli adalah sanad dengan riwayat Athiyyah dari Abu Said bukan sanad dengan riwayat Habib dari Zaid bin Arqam. Menurut beliau riwayat Zaid bin Arqam itu terdapat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, Beliau berkata tentang hadis riwayat Zaid bin Arqam dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad

”hadis ini sama dengan riwayat Tirmidzi namun dari sisi arti kedua riwayat ini banyak berbeda sehingga kita tidak bisa menggabungkan keduanya. Lebih tepat jika kita menggabungkan riwayat Tirmidzi dengan empat riwayat Abu Said dan menjauhi riwayat Zaid bin Arqam”.

Ali As Salus menyatakan bahwa yang menggabungkan dua sanad ini adalah Ali bin Mundzir al Kufi dan Muhammad bin Fudhail. Beliau berkata

”Ali bin Mundzir adalah seorang syiah kufah”.tentang dia Ibnu Abi Hatim berkata”saya mendengar darinya bersama ayah saya dan dia itu sangat jujur dan tsiqah”. Ibnu Namir berkata”dia tsiqah dan sangat jujur”. Daruquthni berkata”tidak mengapa”. Demikian juga pendapat Maslamah bin Qasim, tetapi dengan tambahan “Dia itu syiah” dan Ismail berkata”dalam hati saya terdapat sesuatu tentang dia, dan saya bukan orang terakhir yang mengatakan ini”Ibnu Majah berkata”saya mendengar dia berkata”saya haji 85 kali dan kebanyakan saya laksanakan dengan berjalan kaki”.

Ali As Salus juga melanjutkan

”keterangan yang didengar Ibnu Majah itulah yang membuat kita ragu menjadikan pendapat Ibnul Mundzir sebagai hujjah sebab bagaimana mungkin dia berhaji sebanyak 85 kali dan banyak diantaranya dilakukan dengan berjalan kaki?namun wajar jika seorang syiah seperti dia menggabungkan dua riwayat yang mengandung persamaan dalam satu sisi namun mengandung perbedaan disisi lain tentang keutamaan Ahlul Bait”.

Ali as Salus juga mengatakan

”riwayat ini mengandung kelemahan lain yaitu terputus di dua tempat. A’masyi dan Habib bin Abi Tsabit itu mudallis dan keduanya meriwayatkan dengan ‘an’an. A’masyi dan Habib adalah perawi yang tsiqah. A’masyi mendengar dari Habib dan Habib mendengar dari Zaid bin Arqam. Namun dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar. Dan A’masyi adalah seorang syiah kufah begitu juga Habib. Dalam lingkungan kufah kemungkinan besar hadis-hadis yang tidak cermat dan tidak teliti banyak tersebar”.

Kemudian Ali As Salus melanjutkan

”dalam Mustadrak, Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang memberikan pengertian bahwa A’masyi mendengar dari Habib. Ini membutuhkan penelitian sanad. Dalam sanad itu terdapat banyak perawi. Dan jika benar A’masyi mendengar dari Habib maka masih banyak sisi lain yang menunjukkan dhaifnya hadis ini”.

Tanggapan Kami.

Sedangkan kritikan Ali As Salus terhadap hadis kedua dalam Sunan Tirmidzi diatas perlu ditelaah kembali karena terdapat banyak hal yang perlu diluruskan. Berikut tanggapan terhadap kritikan beliau. Hadis dalam Sunan Tirmidzi ini memiliki dua sanad yaitu

  • · Dari Ali bin Mundzir dari Muhammad bin Fudhail dari Amasy dari Athiyyah dari Abu Said
  • · Dari Ali bin Mundzir dari Muhammad bin Fudhail dari Amasy dari Habib dari Zaid bin Arqam.

Ali As Salus mengatakan bahwa sanad hadis Sunan Tirmidzi ini yang asli adalah sanad Athiyyah dari Abu Said atau sanad pertama dan bukan sanad Habib dari Zaid bin Arqam karena riwayat Zaid bin Arqam itu matannya yang benar menurutnya adalah dalam Shahih Muslim, dan Musnad Ahmad yang tidak mengandung kata-kata berpegang teguh pada Ahlul Bait melainkan hanya mengandung kata-katadan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Pada dasarnya pendapat Ali As Salus ini dilandasi oleh prakonsepsinya bahwa hadis riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi ini memiliki arti yang berbeda dengan hadis riwayat Zaid dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Padahal telah dinyatakan sebelumnya bahwa pendapat ini hanyalah dugaan semata karena seandainya kita hanya melihat riwayat Shahih Muslim atau Musnad Ahmad saja maka peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait itu justru mengisyaratkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada pertentangan antara riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi dan riwayat Zaid dalam Shahih Muslim atau Musnad Ahmad sehingga diharuskan untuk menafikan salah satunya.

Jadi dalam hal ini yang benar adalah dua sanad dalam hadis Sunan Tirmidzi itu dua-duanya adalah sanad yang asli, karena zhahirnya memang begitu yang terdapat dalam Sunan Tirmidzi dan tidak ada alasan yang jelas untuk menolak salah satunya.Justru dengan hadis riwayat Zaid bin Arqam dalam Sunan Tirmidzi ini dapat diketahui dengan kata-kata yang jelas bahwa peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait dalam riwayat Shahih Muslim, Sunan Darimi dan Musnad Ahmad adalah peringatan untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait.Hal ini menguatkan penafsiran bahwa peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait dalam Shahih Muslim, Sunan Darimi dan Musnad Ahmad itu adalah keharusan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait.

Kemudian Ali As Salus menyatakan bahwa yang menggabungkan dua sanad hadis Tirmidzi ini adalah Ali bin Mundzir Al Kufi atau Muhammad bin Fudhail. Sebelumnya akan dilihat terlebih dahulu jalan pikiran Ali As Salus, pada awalnya beliau menyatakan bahwa riwayat Athiyyah dari Abu Said adalah yang asli bukan riwayat Habib dari Zaid, riwayat Zaid menurutnya matannya adalah dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, jadi riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi itu tidak benar karena menurutnya arti hadis itu berbeda dengan riwayat Zaid dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Kemudian beliau menyatakan bahwa yang menyatukan dua riwayat yang berbeda ini kemungkinan adalah Ali bin Mundzir al Kufi atau Muhammad bin Fudhail, dengan dasar ini beliau mencaricacat perawi ini yang dapat menunjang pernyataan beliau, dengan kata lain beliau menetapkan sesuatu yang meragukan pada perawi ini yaitu Ali bin Mundzir dan Muhammad bin Fudhail. Sayangnya pernyataan beliau itu hanyalah celaan yang dicari-cari karena kedudukan perawi-perawi ini telah dikenal tsiqat di kalangan ulama hadis.

Ali bin Mundzir

Dalam Tahdzib at Tahdzib jilid 7 hal 386 dan Mizan Al I’tidal jilid 3 hal 157,Ali bin Mundzir telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama seperti Ibnu Abi Hatim, Ibnu Namir, Imam Sha’sha’I dan lain-lain, walaupun Ali bin Mundzir dikenal sebagai seorang syiah. Mengenai hal ini Mahmud Az Za’by dalam bukunya Sunni yang Sunni hal 71 menyatakan tentang Ali bin Mundzir ini

“para ulama telah menyatakan ketsiqatan Ali bin Mundzir. Padahal mereka tahu bahwa Ali adalah syiah. Ini harus dipahami bahwa syiah yang dimaksud disini adalah syiah yang tidak merusak sifat keadilan perawi dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Artinya ia hanya berpihak kepada Ali bin Abu Thalib dalam pertikaiannya melawan Muawiyah. Tidak lebih dari itu. Inilah pengertian tasyayyu menurut ulama sunni. Karena itu Ashabus Sunan(Sunan Abu Dawud,Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmidzi, Sunan An Nasai) meriwayatkan dan berhujjah dengan hadis Ali bin Mundzir”.

Oleh karena itu meragukan riwayat Ali bin Mundzir atau menuduh beliau menyatukan dua riwayat yang berbeda hanya karena beliau seorang syiah seperti yang tampak dalam kata-kata Ali As Salus

namun wajar jika seorang syiah seperti dia menggabungkan dua riwayat yang mengandung persamaan dalam satu sisi namun mengandung perbedaan disisi lain tentang keutamaan Ahlul Bait”

adalah tidak benar karena ketsiqatan Ali bin Mundzir sudah dikenal dikalangan ulama. Sedangkan jarh yang ditetapkan dalam tulisan Ali As Salus itu adalah jarh yang tidak jelas dan tidak meragukan Ali bin Mundzir sebagai perawi yang tsiqah.

Seperti pernyataan Ali As Salus bahwa Ismail berkata”dalam hati saya terdapat sesuatu tentang dia, dan saya bukan orang terakhir yang mengatakan ini. Tidak ada jarh atau celaan yang jelas dari kata-kata ini dan tidak bisa dimengerti apa yang ada dalam hati Ismail tentang Ali bin Mundzir. Atau perkataan Ali As Salus ”Ibnu Majah berkata”saya mendengar dia berkata”saya haji 85 kali dan kebanyakan saya laksanakan dengan berjalan kaki”. Ali As Salus juga melanjutkan ”keterangan yang didengar Ibnu Majah itulah yang membuat kita ragu menjadikan pendapat Ibnul Mundzir sebagai hujjah. Sebab bagaimana mungkin dia berhaji sebanyak 85 kali dan banyak diantaranya dilakukan dengan berjalan kaki?.

Menurut kami jelas tidak ada hubungannya antara Ibnu Mundzir berhaji berapa kali dan bagaimana caranya berhaji dengan kemampuannya meriwayatkan hadis. Beliau Ali bin Mundzir sekali lagi telah dikenal tsiqah dan sangat jujur dan bagaimana mungkin Ali As Salus meragukan Ali bin Mundzir sebagai hujjah dengan mengutip perkatan Ibnu Majah padahal Ibnu Majah sendiri telah berhujjah dengan riwayat Ali bin Mundzir dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah. Jadi kesimpulannya, Ali bin Mundzir adalah perawi tsiqah dan sangat jujur dan tidak mungkin perawi seperti ini mengutak–atik riwayat hadis yang akan disampaikannya.

Muhammad bin Fudhail

Sedangkan tentang Muhammad bin Fudhail, dalam Hadi As Sari jilid 2 hal 210, Tahdzib at Tahdzib jilid 9 hal 405 dan Mizan al Itidal jilid 4 hal 9 didapat keterangan tentang beliau.

  • · Imam Ahmad berkata ”Ia berpihak kepada Ali, tasyayyu. Hadisnya baik”.
  • · Yahya bin Muin menyatakan Muhammad bin Fudhail adalah tsiqat.
  • · Abu Zara’ah berkata”ia jujur dan ahli Ilmu”.
  • · Menurut Abu Hatim, Muhammad bin Fudhail adalah seorang guru.
  • · Nasai tidak melihat sesuatu yang membahayakan dalam hadis Muhammad bin Fudhail.
  • · Menurut Abu Dawud ia seorang syiah yang militan.
  • · Ibnu Hibban menyebutkan dia didalam Ats Tsiqat seraya berkata”Ibnu Fudhail pendukung Ali yang berlebih-lebihan”.
  • · Ibnu Saad berkata ”Ia tsiqat, jujur dan banyak memiliki hadis. Ia pendukung Ali”.
  • · Menurut Ajli, Ibnu Fudhail orang kufah yang tsiqat tetapi syiah.
  • · Ali bin al Madini memandang Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis.
  • · Daruquthni juga menyatakan Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis.

Jadi kesimpulannya Muhammad bin Fudhail adalah seorang yang tsiqat dan jujur sedangkan tentang syiah atau tasyayyu beliau itu tidak mengganggu sedikitpun kredibilitas beliau sebagai perawi yang dikenal tsiqat. Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Az Za’by dalam Sunni yang Sunni hal 79, yang berkata

”…para ulama hadis sepakat untuk menerima riwayatnya dan berhujjah dengan hadisnya. Mengenai tuduhan bahwa ia(Muhammad bin Fudhail) tasyayyu itu tidak merusak namanya sebab ia terkenal sebagai orang yang jujur amanah dan tidak mau berdusta.”

Oleh karena itu sungguh tidak benar menyatakan bahwa Muhammad bin Fudhail kemungkinan menyatukan dua riwayat hadis yang berbeda maknanya(berbeda disini maksudnya berbeda menurut Ali As Salus) dalam hadis Sunan Tirmidzi diatas seperti yang dinyatakan oleh Ali As Salus, karena tindakan itu sama halnya merubah atau mencampuradukkan hadis dan ini tidak sesuai dengan karakter beliau yang dikenal tsiqat dan jujur oleh banyak ulama hadis.

Kemudian pernyataan Ali As Salus bahwa hadis dalam Sunan Tirmidzi tersebut putus di dua tempat kurang tepat karena sebenarnya hadis itu sanadnya bersambung hanya saja diriwayatkan secara mu’an’an(menggunakan lafal ‘an atau dari) yaitu ‘Amasyi dari Habib dari Zaid bin Arqam. Pada dasarnya penyampaian hadis memang menggunakan lafal akhbarana atau hadatsana, tetapi juga terdapat penyampaian dengan lafal ’an(dari). Hadis dengan lafal ‘an tidaklah langsung dinyatakan sebagai hadis yang dhaif atau tidak bersambung karena banyak terdapat hadis dengan lafal ‘an ini telah dinyatakan shahih atau dijadikan hujjah oleh para ulama seperti hadis dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad dan Mustadrak Al Hakim. Hadis-hadis ini(dengan lafal ‘an) dijadikan hujjah atau shahih dengan alasan sebagai berikut

  • · Hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqat dan tidak diriwayatkan oleh mudallis yang amat buruk tadlisnya.
  • · Hadis ini dikuatkan dengan sanad-sanad yang lain yang bersambung dan shahih.
  • · Terdapat keterangan yang jelas bahwa para perawi tersebut saling mendengar.
  • · Terdapat hadis lain dengan perawi yang sama tetapi menggunakan lafal akhbarana atau hadatsana.

Telah terbukti bahwa A’masy mendengar dan belajar hadis dari Habib dan Habib mendengar hadis dari Zaid bin Arqam seperti yang telah dinyatakan sendiri oleh Ali As Salus lewat kata-kata beliau “A’masyi mendengar dari Habib dan Habib mendengar dari Zaid bin Arqam. Namun dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar”. (Ali As Salus berkata bahwa dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar karena mereka menggunakan lafal ’an dan bukan akhbarana). Jadi perawi-perawi hadis tersebut pernah bertemu dan mendengar hadis secara langsung oleh karena itu tidaklah tepat menyatakan riwayat ini dhaif walaupun dalam riwayat ini menggunakan lafal ‘an.

Selain itu Syaikh Ahmad Syakir telah menshahihkan cukup banyak hadis dengan lafal’an dalam Musnad Ahmad salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dengan lafal ‘an oleh A’masyi dan Habib(A’masy dari Habib dari…salah seorang sahabat). Apalagi dalam Al Mustadrak Al Hakim telah meriwayatkan hadis tsaqalain yang shahih dengan keterangan bahwa A’masy mendengar dari Habib bin Abu Tsabit. Mengenai hadis dalam Sunan Tirmidzi diatas hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang terbukti tsiqat oleh para ulama, dikuatkan dengan sanad-sanad yang lain seperti riwayat Qasim dalam Musnad Ahmad dan hadis dalam Mustadrak Al Hakim. Oleh karena itu Hadis riwayat Tirmidzi yang dipermasalahkan oleh Ali As Salus itu telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no 3788 dan oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy .

Jadi dari semua tanggapan diatas kami beranggapan bahwa pernyataan Ali As Salus adalah tidak benar dan hadis dalam Sunan Tirmidzi tersebut (riwayat Habib dari Zaid) adalah shahih.

2). Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Musnad Ahmad

Ali As Salus dalam kitabnya Imamah dan Khilafah telah membicarakan tentang hadis Tsaqalain dan akhir kesimpulannya beliau menyatakan hadis ini adalah dhaif. Beliau mengkritik hadis Tsaqalain yang terdapat dalam Musnad Ahmad dan Sunan Turmudzi, berikut akan dibahas hadis riwayat Ahmad yang beliau kritik.

Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Athiyyah dari Abu Said

  1. Abdullah bercerita kepada kami dari ayahnya dari Aswad bin Amir dari Israil yaitu Ismail bin Abu Ishaq al Mulai dari Athiyyah dari Abu Said, Ia berkata”Nabi SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar dari yang lainnya,yaitu Kitab Allah,tali yang merentang dari langit sampai bumi,dan Ahlul BaitKu. Keduanya itu tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 14)
  2. Abdullah bercerita kepada kami dari Ayahnya dari Abu Nadar dari Muhammad bin Thalhah dari A’masyi dari Athiyyah al ‘ufa dari Abu Said Al Khudri ra dari Nabi SAW bahwa Beliau SAW bersabda”Sesungguhnya Saya hampir mendapat panggilan lalu saya menjawabnya.Sungguh Aku meninggalkan dua hal bagimu yaitu Kitabullah dan ItrahKu. Kitabullah adalah tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi,dan ItrahKu adalah Ahlul BaitKu. Dan bahwa Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Bijaksana memberi tahu kepadaKu bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang di atas telaga(hari kiamat).Maka perhatikanlah Aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaKu dalam Keduanya.” (Musnad Ahmad jilid III hal 17).
  3. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Ibnu Namin dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Athiyyah dari Abu Said Al Khudri ra, Ia berkata”Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar daripada yang lain yaitu Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi ,dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah keduanya itu tidak akan berpisah hingga sampai ke telaga(hari kiamat).”(Musnad Ahmad jilid III hal 26).
  4. Riwayat dari Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Namir dari Abdul Malik Ibnu Sulaiman dari Athiyah dari Abu Sa’id al Khudri ra,ia berkata,’Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan bagimu sesuatu yang jika kamu berpedoman dengannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya setelahKu yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit ke bumi, dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah bahwa keduanya itu tidak akan berpisah hingga datang ke telaga(hari kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 59).

Tanggapan Kami

Mengenai semua hadis riwayat Athiyyah dari Abu Said ra diatas Ali As Salus menyatakan bahwa semua riwayat di atas dhaif karena Athiyyah telah dinyatakan dhaif oleh banyak ulama. Dalam penjelasan sebelumnya kami telah membahas riwayat Athiyyah dari Abu Said, dan kami menyatakan bahwa riwayat ini hanyalah pendukung riwayat lain yang shahih bahkan justru riwayat-riwayat lain hadis Tsaqalain selain dari Athiyyah dapat menguatkan hadis riwayat Athiyyah dari dhaif menjadi Hasan Lighairihi. Ali As Salus juga mendhaifkan hadis riwayat Ahmad yang lain yaitu

Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit

  1. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Aswad bin ‘Amir,dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan, dari Said bin Tsabit, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu Kitabullah, tali panjang yang terentang antara langit dan bumi atau diantara langit dan bumi dan Itrati Ahlul BaitKu. Dan Keduanya tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(hari kiamat)”. (Musnad Ahmad jilid V hal 181-182)
  2. Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya, dari Ahmad Zubairi dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit ra, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu, Kitabullah dan Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang ke telaga(hari kiamat)”.

Hadis ini dinyatakan dhaif oleh Ali As Salus karena dalam sanadnya terdapat Qasim bin Hishan al Amiri al Kufi. Setelah mengutip pendapat yang menyatakan Qasim sebagai perawi tsiqat, beliau menyatakan tidak sependapat dan memandang bahwa Qasim adalah perawi yang tidak tsiqat berdasarkan alasan berikut

• Dalam Mizan al Itidal Adz Dzahabi menukil dari Bukhari bahwa hadis Qasim bin Hishan itu mungkar
• Dalam Al Jarh Wat Ta’dil
Ibnu Abu Hatim menukil dari Al Munziribahwa Bukhari berkata ”Qasim bin Hishan mendengar dari Zaid bin Tsabit dari pamannya Abdurrahman bin Harmalah sementara Rakin bin Rabi’ meriwayatkan darinya dan dia termasuk ulama kufah yang tidak shahih hadisnya”.

Tanggapan kami adalah bahwa pendapat Ali As Salus dan komentarnya tentang Qasim adalah kurang tepat karena beberapa alasan dan bahkan hal itu juga dikutip oleh Ali As Salus dalam kitabnya. Alasan-alasan itu adalah

  1. Qasim bin Hishan adalah perawi yang tsiqah. Ahmad bin Saleh menyatakan Qasim tsiqah. Ibnu Hibban menyatakan bahwa Qasim termasuk dalam kelompok tabiin yang tsiqah. Syaikh Ahmad Syakir menguatkannya sebagai seorang yang tsiqah(Musnad Ahmad syarh Syaikh Ahmad Syakir). Dalam Majma Az Zawaid ,Al Haitsami menyatakan tsiqah kepada Qasim bin Hishan. Ibnu Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil menulis biografi Qasim tanpa menyebutkan cacatnya, beliau hanya menukil pernyataan Al Munziri tentang Qasim diatas.
  2. Pernyataan Bukhari tentang Qasim tidak dapat dijadikan hujjah disini karena pernyataan itu baru sekedar kemungkinan dan tidak jelas apa sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri dalam masalah ini. Adz Dzahabi dan al Munziri tidaklah sezaman dengan Bukhari oleh karena itu mereka menukil pernyataan itu kemungkinan dari salah satu karya al Bukhari. Tetapi kenyataannya dalam karya Bukhari perihal rijal hadis seperti Tarikh Al Kabir dan kitab Adh Dhu’afa tidak terdapat penukilan ini bahkan Bukhari hanya menyebutkan namanya dan tidak mencela atau menjarhkan Qasim seperti yang didakwa oleh Adz Dzahabi dan Al Munziri. Hal ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Musnad Ahmad jilid V komentar riwayat no 3605, beliau berkata ”Saya tidak mengerti apa sumber penukilan Al Munziri dari Bukhari tentang Qasim bin Hishan itu. Sebab dalam Tarikh Al Kabir Bukhari tidak menjelaskan biografi Qasim demikian juga dalam kitab Adh Dhu’afa. Saya khawatir bahwa Al Munziri berkhayal dengan menisbatkan hal itu kepada Al Bukhari”.

Dengan demikian Jarh yang ditetapkan kepada Qasim bin Hishan adalah tidak jelas apakah benar atau tidak bersumber dari Bukhari, karena bisa jadi hal ini merupakan kekeliruan dari Adz Dzahabi dan Al Munziri. Tentu saja dugaan ini(kekeliruan) dilandasi dari tidak terdapatnya sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri.

Disinilah letak kerancuan Ali As Salus

Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah berkata

”Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujuk. Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti )bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari”

Tanggapan Kami: Pernyataan ini sangat jelas kerancuannya karena semuanya hanya didasarkan atas dugaan saja. Bukankah pernyataan Ali As Salus Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujuk adalah suatu bentuk prasangka juga, apa buktinya pernyataan itu? apa sumber yang tidak mudah dirujuk itu? bukankah bisa juga diduga jangan jangan tidak ada sumber yang dimaksud atau dengan kata lain adalah kekeliruan dari kedua ulama tersebut.

Kemudian pernyataan Ali As Salus Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti) bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari” juga tidak jelas, kalau memang ada di kitab Adh Dhu’afa kenapa pula harus menggunakan kata praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti). Bukankah ini menyiratkan Ali As Salus sendiri belum membaca Adh Dhu’afa, lalu bukankah Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa penukilan tersebut tidak ada dalam Tarikh Al Kabir dan Adh Dhu’afa . Dan dengan semua keraguan ini Ali As Salus menyatakan bahwa Qasim adalah tidak tsiqat hadis riwayatnya tidak shahih(dhaif). Memang dalam Ilmu hadis jika ada perbedaan pandangan terhadap seorang perawi antara jarh dan ta’dil maka jarh mesti didahulukan tetapi hal ini dengan syarat jarh itu harus benar-benar jelas dan ada buktinya. Tetapi kalau jarh tersebut meragukan maka yang terbaik dalam hal ini adalah menetapkan ta’dilnya. Oleh karena itulah dalam hal ini dinyatakan bahwa kesimpulan Ali As Salus bahwa Qasim bin Hishan tidak tsiqah adalah tidak tepat dan yang benar Qasim adalah seorang yang tsiqah.

Hadis yang dimaksud yaitu hadis Tsaqalain riwayat Qasim bin Hishan ini telah dinyatakan shahih oleh beberapa ulama. Di antaranya Jalaludin As Suyuthi telah menshahihkannya dalam Al Jami’ash Shaghir. Al Hafiz Al Manawi juga menyatakan shahih dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir. Pernyataan kedua ulama ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albani yang menyatakan hadis ini shahih dan memasukkannya dalam Shahih Al Jami’Ash Shaghir. Selain itu Abu Ya’la meriwayatkan hadis ini dalam Musnad Abu Ya’la dan menyatakan bahwa sanad hadis ini termasuk dalam kategori tidak mengapa. Al Haitsami dalam Majma’Az Zawaid menyatakan bahwa semua perawi hadis ini adalah tsiqat. Berdasarkan semua keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pendapat Ali As Salus itu tidak tepat dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah bahwa hadis riwayat Qasim dalam Musnad Ahmad tersebut adalah shahih.
Oleh: J. al-Gar (secondprince)

Pos ini dipublikasikan di Analisis Hadis, Analisis Sejarah, Tafsir al-Quran dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kritik kepada Ali as-Salus mengenai Hadis Tsaqalain

  1. raswan qauliyah berkata:

    sungguh…pembahasan yg akurat yg q tmukan disini. Sangat brmanfaat
    Mohn ijin untk mengutip artikel2 disini untk pribdi dn keluarga saya.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s